<body>
Rambut di Kepala
Saturday, May 20, 2017 @10:25 AM



Akhir-akhir ini otak saya dibebani pikiran tentang hijab. Sebenarnya apa makna hijab? Seberapa jauh perannya dalam pemenuhan syariat Islam?
Saya kira kebanyakan orang kini telah paham bahwa aurat bagi wanita tidak hanya sekedar rambut, meski rambut adalah hal terawan. Kita punya bagian tubuh lain yang perlu ditutupi. Dan fakta bahwa hampir seluruh tubuh kita ditumbuhi rambut tidak dapat dimungkiri. Karenanya sangat masuk akal apabila rambut yang tumbuh di kepala kita ini tergolong aurat.
Namun apabila boleh sedikit menilai, saya rasa masih banyak yang  memprioritaskan rambut yang tumbuh di kepala. Saya juga tahu, saya salah satunya. Masih sering saya mengoptimalkan agar rambut di kepala saya tertutup sempurna, tetapi tidak menutup bagian yang lainnya.
Hanya saja agaknya lebih banyak yang tidak lebih sadar daripada saya. Kadang saya suka risih pada mereka yang berjilbab, yang memandang rendah mereka yang tidak mengerudungi kepala mereka. Bukankah ini semua tidak hanya tentang rambut? Seremeh itukah makna berhijab hingga menjadi takaran penilian sekali pandang?
Bagaimana dengan kita yang membiarkan punggung kaki tanpa kaos kaki? Atau punggung tangan tanpa deker? Apa dosanya akan lebih ringan? Berhakkah kita berpikir demikian?

Tentu saya sangat benci bila harus mengakui pernyataan tentang hijab sebagai mode. Yang demikian itu membuat saya bertanya-tanya, mungkinkah jika saya hidup dua puluh tahun lebih awal, kesadaran berhijab belum menyentil saya? Mungkinkah saya korban mode? Ataukah ini sekedar keberhasilan orang tua saya dan pengaruh lingkungan? Pernyataan pesimistis semacam itu kerap mengganggu saya. Dan saya yakin yang demikian juga sempat terpikir di benak sebagian yang memilih berhijab karena begitulah yang harus terjadi di lingkungannya. Sama halnya dengan pernyataan yang baru-baru ini menjadi viral, tentang seorang perempuan yang mengaku bahwa Islam baginya hanyalah bawaan dan bukan pilihan. Saya hampir yakin pernyataan seperti itu terikrarkan akibat kecemasan yang terlintas setelah  pengambilan kesimpulan oleh masa. Kesimpulan itu terupgrade dengan sendirinya menuruti idealisme subjek.

Menghadapi hal ini, saya rasa yang paling dibutuhkan adalah pembenahan presepsi. Hal ini hanya dapat terjadi apabila bahan yang dibutuhkan untuk membenahi cukup banyak, hingga makin mantap lah kriteria baik buruk yang kita libatkan. Maka pengetahuan menjadi sangat penting. Pemikiran kita tidak bergantung pada presepsi banyak orang, kesimpulan masa. Kita dapat memilih dan menyimpulkan sendiri sesuai bahan yang kita miliki. Sehingga tidak ada keragu-raguan karena kita sendiri yang menyimpulkan.

Apabila hal ini dikaitkan dengan hijab, maka kita harus terlebih dahulu mengerti definisi hijab. Kita harus paham mengapa ada penganjuran (bahkan kewajiban) berhijab. Daripada memukul rata seluruh penggunaan hijab sebagai mode dan bukan untuk memenuhi aurat, alangkah baiknya apabila kita bersikap lebih teliti dan membersihkan otak kita dari presepsi yang bersifat stereotip. Hijab tidak hanya soal rambut. Hijab berarti penghalang yang menutupi aurat kita dari pandangan orang yang bukan muhrim. Saya rasa mudah sekali memahami hal ini. Maka seharusnya kita berhati-hati dalam membedakan hal ini dengan kerudung atau khimar. "Saya sudah berkerudung" tentu berbeda dengan "Saya sudah berhijab." Kerudung lebih difungsikan untuk menutup kepala sementara hijab berarti menutup keseluruhan aurat yang dimiliki. Islam mewajibkan kita untuk menutupi aurat, tidak hanya kepala. Maka wajiblah bagi setiap muslim untuk berhijab, bukan sekedar berkhimar apalagi berkerudung. Lalu mengapa begitu khawatir saat sehelai rambut terlihat tetapi sama sekali tidak peduli bila jari-jari kaki terbuka?

Pernah suatu kali saya ditegur teman saya karena terpaksa mengambil wudhu di salah satu mall dengan tempat wudhu yang memang cukup terbuka. Saya sadar laki-laki banyak yang lalu lalang di belakang saya. Tapi saat itu saya tidak punya pilihan lain. Kamar mandi penuh sesak dan adzan Ashar sudah dekat. Posisi saya mengejar Dhuhur. Teman saya juga sama keadaannya dengan saya. Ia berwudhu di sebelah saya. Yang membedakan adalah frekuensi terbukanya jilbab kami pada saat itu. Ia hanya membuka peniti yang mempererat jalinan kerudung tanpa menggesernya lebih jauh. Saya menggeser kerudung saya dengan sempurna, maksud saya agar tidak basah terkena air karena memang rambut saya panjang sekali. Yang saya dengar, dalam berwudhu, paling tidak rambut di kepala basah sebanyak sehelai. Lalu teman saya mengatakan tidak perlu saya membuka sejauh itu, banyak laki-laki yang melihatnya.
Lalu bagaimana dengan lengan baju saya yang juga tersingkap hingga melewati siku? Dan kaki saya yang terbuka hingga mata kaki? Mengapa saya tidak mendapat komentar tentang itu?

Saya tahu yang saya lakukan sama sekali bukanlah hal yang tepat. Tapi bagi saya sikap teman saya juga kurang hati-hati. Saya tidak berusaha mencari pembenaran atas kesalahan saya, tetapi hal itu membuat saya berpikir presepsi orang kebanyakan mengenai hijab saat ini memang benar-benar hanya menutupi rambut. Seakan-akan aurat perempuan hanyalah rambut. Dengan demikian saya rasa tidak salah apabila saya menyimpulkan kebanyakan dari kita masih belum menerapkan konsep beramal dengan ilmu.


+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous //