Maka, Berpikirlah Rasional
Friday, February 3, 2017
@7:09 AM
Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang membuat saya berpikir dua kali. Saya suka sekali menilai diri saya meskipun tahu hal tersebut tidak patut dilakukan. Termasuk pada kasusmu, saya perlu mengoreksi kembali kesimpulan saya dulu.
Maaf, seperti yang kamu kira, saya memang menyukai kamu. Terlepas dari elemen rohaniah yang sudah terlalu sering saya bawa-bawa untuk melepaskan perasaan suka ini dari hati saya, saya tidak pernah benar-benar membencimu. Dan itu justru yang lebih saya benci. Saya benci perasaan suka saya – yang selama ini tidak pernah saya ikrarkan karena berpikir hanya akan membuat saya tersiksa. Asal kamu tahu, segala perasaan saya akan resmi ada apabila dituliskan. Karenanya tulisan ini adalah suatu peresmian yang baru. Yang saya akui.
Hahaha, lihatlah betapa bodohnya saya. Saya selalu seperti ini. Tidak tahu lagi saya mana yang sedang bekerja, otak atau hati. Mungkin tes kepribadian online yang saya isi dengan paksaan orang dekat saya saat itu dapat dipercaya juga. Katanya saya adalah orang yang bekerja dengan rasa. Sense. Atau apa saja. Saya akan berhasil jika bekerja di bidang penuh rasa. Tipikal advokat yang membela segala hal karena memikirkan rasa, chef yang menakar tanpa melihat resep, pemusik yang pandai menahan emosi. Sungguh hampir seluruh yang disarankan sudah pernah saya coba lakukan, tapi kurang lebih hasilnya membuat saya trauma.
Kembali lagi, saya tidak tahu hati saya yang sedang ramai oleh bunga-bunga musim semi atau otak saya yang sedang segar. Saya menulis dengan begitu lancarnya. Tidak ada ide yang dikonsep, saya hanya mengatakan apa yang pertama kali muncul di kepala saya, dan ada kamu di sana. Maka sekiranya kamu membaca ini, bacalah dengan otak kamu yang mereka anggap penuh ide itu. Berpikirlah rasional. Kiranya apa aku masih bisa dikategorikan sebagai yang tahu diri dengan bersikap demikian. Cukup mainkan saya dengan otak kamu. Saya tidak mau ditelanjangi pula oleh hati kamu.
Maksud saya, tidak perlu lah kamu beri saya harapan. Kondisi saya ini cukup mengenaskan. Sedikit saja kamu berbuat baik pada saya, maka akan saya anggap itu perlakuan luar biasa. Seperti steak bagi anak perantauan, atau cocktail bagi musafir di gurun. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan saya, tetapi memberi kemewahan. Hal seperti itu yang membuat saya jatuh semakin dalam.
Sebaliknya, kesalahan yang kamu lakukan hanya menghadirkan kesal sesaat. Saya tidak akan banyak berubah. Inilah yang menjadi ralat, objek koreksi yang saya sebut-sebut di awal tadi. Dulu saya pikir saya adalah orang yang mudah menyukai dan mudah membenci. Dulu saya pikir saya hanya gampang menilai orang saja. Mudah memutuskan sesuatu. Tidak kenal ampun. Kesan pertama akan menjadi kunci di otak saya. Lalu setelah menimbang untuk membuka hati atau tidak, kunci itu saya musnahkan. Dan mudah saja membuat kunci yang baru jika sewaktu-waktu kamu melakukan sesuatu yang berkebalikan. Jika awalnya pintu itu telah terbuka, maka akan saya tutup. Jika tertutup maka tidak sulit untuk membukanya. Begitu mudahnya saya dipengaruhi.
Dan izinkan saya mengubah penilaian itu. Ternyata saya cukup setia pada hal yang bodoh. Kesetiaan saya benar-benar tidak tahu diri. Mudah jatuh cinta dan sulit keluar dari jurang itu. Mungkin kamu perlu seribu kesalahan lagi untuk membuat saya pergi. Atau saya perlu mencari sejuta alasan untuk membencimu.
Beginilah ikrar saya. Orang yang akhirnya mampu berikrar, setidaknya demi menghindari munafik kepada diri sendiri.
Yogyakarta, 3 Februari 2017.