Senyum
Tuesday, January 17, 2017
@9:32 AM
Saat itu, aku menyadari seluruh kepekaan inderaku
membuncah, terutama pendengaran. Bukan. Mungkin salah besar jika disebut
peningkatan kepekaan. Lebih tepatnya, aku hanya mampu mendengar napas kami yang
bertempo, bersahutan satu sama lain. Background off. Hyperacusis. Atau istilah lain untuk menyebut pemosisian sesuatu yang lebih dari seharusnya. Sampai di waktu tertentu, aku terpaksa
menahannya demi tidak mendengar peraduan milikku dan miliknya. Karenanya yang paling kubutuhkan
adalah suara. Suara apapun yang lebih nyaring daripada embusan napas kami.
Pasalnya, selama dua jam terakhir aku dihidupi oleh suara
motor matic yang kami tumpangi. Aku bersyukur ia mengendarainya dengan
kecepatan di atas normal. Paling tidak gemuruh mesin yang semakin heboh dan rintik
hujan yang semakin dahsyat menghujami wajahku dapat menjadi pengalih perhatian
utamaku. Tentu saja juga berarti mempersingkat perjalanan kami,
menurunkan probabilitas kematianku akibat teralalu lama menahan napas. Kecanggungan
dan rasa bersalah di punggungku kian ringan.
Namun belum genap rasa syukur ini kuhaturkan, mataku seketika membelalak menyaksikan dua digit angka
yang tertera di lampu apil. Segmen-segmennya membentuk angka sembilan dan nol. Motor
direm, berhenti tepat di belakang garis marka. Bagus. Kami punya waktu untuk
mendekatkan diri. Begitulah logika yang tepat.
Tentu
saja daripada melihatnya sebagai kesempatan, aku lebih setuju dengan hipotesis bahwa satu setengah menit ke depan mungkin aku akan mati suri. Sungguh aku tidak
menyangka bahwa nasib benar-benar tidak di pihakku. 5400 milisekon itu tidak
akan menjadi apa-apa jika saja bukan laki-laki ini. Situasi dan orang yang terlibat tidak nyambung. Dan ini pertama kalinya aku
diancam waktu dengan tawaran sesadis ini. Aku kehabisan akal. Gemuruh motor, penyambung hidup
kami itu, sirna. Dan kini yang bisa kulakukan hanyalah memandangi angka yang berubah
setiap detiknya. Berharap dengan demikian kecepatan perubahannya menjadi dua
kali atau lebih-lebih tiga kali lebih cepat. Lalu kami akan melanjutkan perjalanan sambil kembali berada dalam lamunan masing-masing.
Hingga
sudut mata kiriku menangkap sesuatu yang bergerak heboh. Aku menoleh spontan. Tepat
di samping kami, mobil berasupan solar berhenti. Dari celah jendela yang kuduga
dibuka sebagai upaya mencegah pengembunan, aku melihat batita menatapku sambil
mengusap-usap kaca jendela. Lidahnya dijulur-julurkan khas bocah menyambut gigi
sulung. Aku tersenyum, diikuti senyumnya. Ia tampak malu-malu ketika aku
melambai, lalu tertawa ketika aku menjuluran lidah, berusaha membuat ekspresi
lucu. Jadilah kami berinteraksi dengan bahasa wajah. Tidak biasanya aku disukai anak kecil.
Cukup
lama kami berkomunikasi. Di sela-sela aku mengutuk perbuatanku beberapa menit
lalu – memakan permen terakhir di kantungku sehingga aku kehilangan kesempatan
memberikannya untuk si kecil di hadapanku ini – aku menangkap penampakan di
kaca spion motor. Senyum yang sangat manis, yang kusadari merupakan reaksi
terhadap perbuatan kami – aku dan anak kecil ini. Mata laki-laki itu menatapku
melalui bayangan cermin. Ia sama sekali tidak mencoba menghindari tatapanku
saat tertangkap basah. Malah aku yang melakukannya. Aku tidak tahu sejak kapan
posisi spion itu berubah sehingga ia bisa melihat wajahku, dan aku melihat wajahnya. Yang jelas
bagiku itulah momen terbaik yang kami miliki selama dua setengah jam perjalanan
kami. Dan lampu pun berubah hijau.
Sebenarnya
ada pemikiran terkutuk yang sempat terlintas di benakku. Andai saja aku bersama
orang lain – siapapun selain orang yang saat ini bersamaku – pastilah akan
menambah kenangan bergenre romantis di hidupku. Kami hanya berdua. Setiap yang kami
lakukan hampir selalu merepresentasikan perbuatan pasangan muda yang sehat. Segala perbuatanku
pertama-tama kuawali dengan memikirkan dampaknya terhadap lelaki itu. Entah ia
berpikir sama atau tidak, tetapi aku merasa juga diperlakukan istimewa olehnya.
Hanya untuk dua setengah jam hal ini terjadi, sebelum akhirnya aku kembali
menjadi upik abu yang hina. Namun secepat akal sehatku kembali, secepat itu
pula aku membuang jauh pemikiran yang bagaimanapun terdengar salah itu.
Jujur saja aku ingin menjelaskan lebih banyak lagi tentang senyumnya. Tentang satu giginya yang lebih maju daripada gigi-gigi lainnya sehingga membuatku makin menyukai senyumannya. Tetapi senyum itu mungkin tidak pernah punya arti apa-apa. Jadi biarkan senyum itu menjadi salah satu dari ribuan senyum yang kulihat sebagai basa-basi semata. Tidak pernah ada penjelasan lebih jauh yang mendasarinya.
30 Desember 2016