<body>
I'm sorry for blaming you
Friday, September 23, 2016 @8:11 AM




Saya belum tahu mana yang lebih baik. Menjadi yang disalahkan atau yang menyalahkan.
                Butuh waktu lama untuk saya menyadari bahwa yang saya lakukan selama ini hanyalah menyalahkan. Padahal hampir setiap saat saya berpikir, setiap makhluk tak pernah mau disalahkan. Mereka ingin setiap ucapannya dianggap benar, perbuatannya dianggap tepat, bahkan pengakuan atas kesalahannya ingin dianggap sebagai keputusan brilian. Sekali lagi, ternyata selama ini saya adalah pihak yang menyalahkan.
                Cukup banyak kesalahan yang saya artikan sebagai kesalahamu. Sungguh, saya minta maaf. Dan saya mau permintaan maaf saya dianggap hal baik olehmu. Saya terlalu lama terkekang dalam kemunafikan yang katanya dipelihara lebih dari separuh manusia di bumi. Apa daya, saya termasuk mayoritas yang seharusnya tidak diasingkan.
                Ngomong-ngomong soal asing, mungkin hanya saya yang memikirkan hal ini secara berlebihan. Saya kurang lebih berbasis sastra (Maaf, apabila ada yang tersinggung), maka maklumi pemikiran saya yang terlalu sensitif ini. Padahal kamu sudah lama lupa tentang hal konyol yang demikian. Tapi sedikit pun tidak hilang dari otak saya, soal dunia kamu yang bagi otak saya sungguh luas itu. Mata saya menemukan kamu bahkan pada guratan merah di pipi teman saya. Tapi bukan ini yang terpenting.
                Kembali soal menyalahkan. Saya terus terusik dengan keberadaanmu. Saya benci senyum kamu yang ternyata menyebar nyaman. Atau mata kamu yang memancarkan tenang. Dan parfum kamu yang ternyata menyeruakkan kangen. Maaf sekali lagi, ini sungguh berlebihan. Tapi memang itu yang terjadi. Hampir setiap malam saya repot-repot mengeluarkan kamu dari pikiran karena terlalu jijik. Fobia. Petaka.
                Tapi apa kamu tahu butuh berapa lama untuk Tuhan merubah presepsi seseorang? Saya benci perasaan campur aduk yang selalu hilang identitasnya hanya dalam sepersekian detik. Saya menyukai saya yang membenci kamu. Tapi Tuhan memberikan waktu untuk saya bertemu dengan perasaan itu tak kurang dari satu tahun. Maha besar Ia hingga lima tahun terakhir saya tersiksa dengan kutukan saya untukmu.
                Ketika menurut pengakuan kamu, kamu tidak lagi mencoba untuk mengusikku, kenapa kamu malah membuat saya terjungkal? Saya benci karena telah sadar, bahwa tidak sedikit pun kesalahan ada pada kamu. Tidak juga pada perasaan saya. Tapi pada keputusan saya.



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next