<body>
Mungkin Aku Hanya Berdelusi
Saturday, April 16, 2016 @2:41 AM



Malam itu, kupikir akan menyenangkan. Tawa akan hadir terlalu banyak, perut akan terlalu penuh, dan waktu akan berlalu terlalu cepat. Kupikir akan seperti itu.
Maka aku menolak dengan halus. Ada sebagian dari diriku yang tidak pernah kusangka akan merasa lelah dan ingin diam saja. Mungkin bukan karena aku tidak jenuh. Lebih pada rasa bersalah pada mereka yang turut berjuang, tapi tidak menikmati apa-apa. Karenanya, kuanggap ini bukan waktu yang tepat. Mungkin tidak sekarang. Dan syukurlah, semua aspek memilih bertahan pada egonya, bahkan kucing dengan mata berbinar-binarnya. Aku tertawa teringat adegan di salah satu film tentang oger hijau buruk rupa dan putri cantik di kastil mewah.
Tapi seperti yang kukatakan tadi, semua aspek bertahan pada egonya, termasuk aku. Pada akhirnya aku sampai juga pada momen yang kupikir akan kutunggu-tunggu karena aku terlalu muak dengan angka dan kalimat teoritis. Kau tahu, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati hasil yang selama ini telah kita perjuangkan.
Lucunya, perkiraanku tidak seakurat itu. Di sana tawa tidak sesering itu terdengar. Perutku penuh, sangat penuh. Tapi saat memenuhinya, aku masih sempat menakar. Dan waktu yang berlalu.. Kuakui memang cukup cepat berlalu.
Daripada tawa, yang paling melekat di memoriku adalah air mata. Setelah tertawa cukup lama, kami malah menangis sejadi-jadinya. Entah menangisi apa. Aku sendiri tidak merasa pantas melakukan itu. Apa yang kurasakan pada saat itu pun juga tidak benar-benar kuingat. Hanya saja momen membawa perasaan kita pada titik semrawut. Entah bagaimana perasaanku saat itu, yang jelas aku bukannya sedih atau pun senang. Dan pikiranku melalang buana hingga ke detail terkecil. Bukan ke tempat yang lebih jauh, melainkan mengerucut pada hal yang selama ini tidak kusadari.

Teman, pertanyaan sebenarnya adalah : Apa aku pantas memiliki perasaan yang demikian?
Aku merasa Tuhan terlalu baik padaku. Tuhan memberiku kemampuan merasakan senang - di waktu yang bagimu salah - hingga aku merasa memiliki. Membuatku seolah salah paham dan tidak sadar akan porsiku.
Karenanya aku sampai pada kesimpulan bahwa dibalik seluruh fakta yang ada, mungkin aku hanya berdelusi hingga tidak sedikit pun aku menyesal. Di matamu mungkin tindakanku terlihat bodoh. Tapi kau tahu, bukan aku yang mengatur perasaanku. Aku tidak punya kuasa akan hal itu. Dan aku mencoba untuk mengikuti arus yang ada, tanpa pernah mengutuk, apa lagi melawan perasaan. Lagi pula apabila semua ini hanya soal timing, ingatlah jarum jam tidak diam di tempat. Suatu saat waktu sebagai alat Tuhan, akan membawa kita pada hal  yang benar.


+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next