<body>
Mistar Mimpi
Saturday, March 5, 2016 @9:51 AM



Dari apa yang telah terjadi, saya dapat menyimpulkan sesuatu : Semua manusia adalah pemimpi.
Yang membedakan hanyalah seberapa besar keinginan seseorang untuk mempertahankan mimpi itu. Tidak perlu munafik. Saya tahu kini mimpi punya ukuran. Tidak lagi relatif seperti yang dulu digembor-gemborkan para motivator. Karena kini ada yang disebut anggapan banyak orang. Yang menjadi mistar bagi mimpi. Tapi bukan bagi pemimpi. Tantangan bagi pemimpi besar.

Mimpi saya bukan mimpi besar. Tapi saya cukup percaya diri dengan mimpi itu.
Kenapa kita harus mempedulikan anggapan orang yang tidak selalu benar? Karena hati kecil kita diam-diam berkata "Memang hal itu tidak sepenuhnya salah". Kemudian pemimpi itu menelan ludah, mencegah tangisnya pecah.
Saat hal itu terjadi, apa berarti pemimpi itu kehilangan kata 'besar' dalam gelarnya? Saya rasa tidak juga. Paling tidak dia tahu ia sedang bertindak bodoh dengan berpikir demikian. Hanya saja, untuk saat ini ia harus terlebih dahulu menunda perwujudan mimpinya.

Saya telah banyak ditertawakan. Saya bukannya jera karena itu. Saya rela jika memang ditertawakan bisa membuat mimpi saya terwujud. Masalahnya kini adalah, saya serakah. Dan tidak ada yang perlu disalahkan atas keadaan ini. Dunia ini fana, pemikiran kita tidak dapat lepas dari hal-hal fana.

Tapi tekad saya bulat. Saya tidak akan lari kemana-mana, melainkan pulang ke dunia saya.


+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next