<body>
Berawal Dari Tatap
Saturday, December 19, 2015 @6:27 AM



Ceritanya selalu dimulai dengan tatapan. Aku yang menatapnya. Tapi ia tidak pernah menatapku. Tidak apa-apa. Aku tidak butuh apa-apa selain raganya sendiri.
Kenapa manusia selalu memandang remeh cinta pandang pertama? Apa salahnya menyukai hanya dengan sekali tatap? Memang wajar bila kualitasnya dipertanyakan. Awalnya aku juga selalu merasa hal seperti ini tidak benar. Tapi aku melakukannya. Dan pada akhirnya ada beberapa bahkan banyak hal yang tidak kusukai darinya. Lucunya, aku selalu menerima tanpa harus berusaha.

Yang satu ini juga berawal dari tatapan. Kamu menatapku sambil tertawa. Asal kamu tahu, aku tidak menyukaimu. Wajahmu tampan. Sangat. Tapi aku tidak menyukaimu sebelumnya. Bukan, aku tidak pernah peduli denganmu. Bahkan untuk membencimu, aku tidak punya waktu.
Pada akhirnya aku jatuh cinta pada tatapan itu. Waktu yang sebelumnya kuanggap terlalu berharga untuk  mempedulikanmu, kini tersita hanya untuk menatapmu. Mataku terus mencari, telingaku terus menyimak. Di saat aku merasa tidak lagi menyukaimu, aku harus kembali padamu.
Tapi apa kamu tahu? Tidak ada yang bisa kulakukan selain menemukanmu. Sekali pun kita berada di tempat yang dekat, aku selalu merasa sebaliknya. Ketika aku butuh kamu, aku hanya mampu menemukanmu, tanpa bisa meminta pertolongan. Dan aku tidak puas hanya dengan hal itu. Aku menjadi serakah. Tapi sebanyak keserakahan itu datang, aku juga sadar bahwa tidak ada yang mampu memenuhinya ketika kamu sendiri tidak mampu.
Sama halnya dengan malam ini. Mataku masih berkeliaran dalam kerumunan itu untuk menemukanmu. Temanku bertanya-tanya, siapa yang kucari. Aku tak pernah menjawab untuk membuat mereka menduga sendiri. Karena aku tahu mereka cukup percaya diri dengan dugaan mereka. Untunglah dugaan mereka selalu salah.
Aku lagi-lagi menemukanmu. Senyumku melebar.
Alasanku mencarimu adalah kenangan itu. Aku merasakan deja vu. Kita pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, berbagi api untuk menghidupkan lilin. Apa kamu masih mengingatnya? Pertanyaan itu membuatku ingin melihatmu. Aku ingin memastikan lewat ekspresimu, meski aku tahu tidak akan mendapatkan petunjuk apa pun.
Posisimu sangat dekat dariku. Aku ingin sekali menghambur untuk membuat kejadian lalu benar-benar terulang lagi. Tapi lilin di tanganku pun tahu, aku tidak bisa. Tidak boleh.

Dan pilihanku adalah berbelok padanya. Dia cinta sekali pandangku. Yang bisa kudatangi kapan pun aku mau. Yang tidak hanya untuk ditemukan, tapi juga digapai dan dibawa kedalam rengkuhan. Tidak ada tatapan dan senyum manis. Cukup dengan api kecil, tangan yang ikhlas terkena lelehan lilin, dan keberadaanmu. 
Aku menyukaimu sekali lagi.


+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next