Saat Aku Menemukan
Wednesday, March 19, 2014
@8:52 AM
Sedetik lalu aku
terjaga. Keningku berair. Keringat juga menyertai punggung dan kakiku. Sementara
seluruh bulu kudukku berdiri. Aku gemetaran. Kulirik jam weker hadiah kakak
kelas yang bahkan aku sudah melupakan namanya. Waktu memasuki jam dua belas
malam. Itu berarti aku baru saja tidur kurang lebih lima belas menit.
Aku tahu
penyebab segala kelainan pada tubuhku tadi bukanlah mimpi buruk. Ini hanya
petir di musim panas dan aku yang sedang tidak beruntung karena virus influenza
yang kudapat sejak kemarin belum juga reda.
Lalu aku
memahami satu hal, bahwa yang paling ku butuhkan adalah sesuatu yang dingin.
Sehingga aku memutuskan untuk keluar kamar, berharap tidak lupa mengisi wadah
es batu. Saat membuka kulkas, hawa dinginnya memenuhi kepalaku, membuatku merasa
sedang menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim. Jadi aku mengurungkan niat
untuk membuat kantung demam dan mengambil air
putih dari kran air.
Keputusan pindah
ke Negara bukan tropis memang tidak pernah tepat. Tapi dari sekian juta hektar
luas dunia ini, tempat ini adalah yang paling kukenal. Aku tidak tahu
seharusnya mengenal bahasa dan budayanya adalah sesuatu yang baik atau malah
sebaliknya. Yang kutahu, aku hanya pernah menginjakkan kaki di sini selain tempat
asalku, dan aku merasa keduanya menerimaku dengan baik. Tapi karenanya,
membuatku merasa cuma boleh memilih satu dari beribu Negara di dunia untuk
kusinggahi selamanya. Dan pilihanku jatuh pada negeri ini. Yang tak kusangka
akan membuatku bersimbah keringat dan air mata saat musim panas datang.
“Ran, flu-ku makin parah. Jam segini toko obat
yang masih buka dimana?” lurus-lurus kutatap bingkai foto didekat sofa. Disana
bukannya gambar dua orang yang tertawa bersama, bahagia, dan serasa berada diawang-awang.
Disana foto serba formal, serba rapi dengan puluhan manusia berjajar dengan
senyum kaku. Ragu, bangga, bingung, dan bahagia sampai tak tahu harus berbuat
apa. Lima tahun lalu saat jas dari universitas idaman akhirnya bisa kita pakai. Tapi
mataku Cuma bisa menangkap pada satu orang. Bukan aku. Tapi bagianku. Rana-ku. Sayangnya
foto yang kupunya hanya ini. Rana-ku bukan orang romantis yang memberi, meminta, dan mengajakku bertukar foto. Ia hanyalah Rana yang biasanya. Rana yang
datang karena kuminta. Dan pergi tanpa kuminta.
“Ran, ini malam
terakhir sebelum aku punya teman besok. Tapi ternyata terpaksa tidak selamanya
buruk lho” Kuraih bingkai itu. Mengira-ngira wajahnya saat ini. Apa mungkin
tiba-tiba Rana-ku itu sudah berubah menjadi manusia paling tampan dan tidak
akan lari lagi. Ataukah ia hidup bahagia bersama wanita itu. Wanita selayaknya
wanita. Pintar masak, merangkai bunga, melukis, dan punya wajah standard
sehingga tak banyak laki-laki yang tertarik. Atau malahan dia sama seperti aku.
Masih terombang-ambing. Masih tiba-tiba buta akan batas. Masih ingin terbang
jauh tak teraih seperti dulu.
“konyol. Aku
benci kamu ran.” Aku meletakkan kembali bingkai itu dengan kelembutan. Dengan
beribu ketulusan dan kasih yang tak mungkin berbalas. Dengan satu tetes air
mata di pipi kiri.
Malam
ini, mungkin sekali lagi aku akan tidur bersama Rana-ku tanpa selimut. Untuk
terakhir kalinya aku akan merasakan flu yang makin parah dengan senyuman Rana.
Hanya untuk terakhir kali bersama Rana, dimimpiku, dikepalaku, sebelum besok
datang.
Di
tengah hujan deras seperti ini seharusnya Rana datang. Menanyakan apa aku
baik-baik saja. Apa petir itu tidak lagi menggangguku. Apa aku butuh ia disini
untuk menemani. Dia satu-satunya orang yang tahu bahwa petir adalah bagian dari
musim hujan yang paling kubenci.
Semua tentang
hujan aku suka, kecuali petir. Karena hujan aku bertemu Rana. Karena hujan Rana
menyebutkan namanya pertama kali. Menggendongku ala putri ke ruang kesehatan,
saat semua orang sudah tak lagi di sekolah. Rana si pendiam, si jenius, orang
paling psiko di kelas. Aku jatuh cinta pada orang yang seperti itu.
Lalu, secepat kilat
sebelum petir, ia datang. Merubah hidup Rana yang merupakan bagian dariku. Aku
tentu juga berubah. Aku terus berlari mengejar bagianku yang lari. Ditengah
petir aku, tersandung, terjungkal, jatuh, dan menangis. Tapi tetap saja aku
gagal. Rana tak terkejar. Rana tak lagi hadir seperti saat hujan menggangguku
dulu, ia terus berlari bersamanya. Petir terpaksa menjadi saksi. Saksi ketika
Rana memilih menggendongnya daripada aku, saat petir membuatku tersiksa. Saat
aku kehilangan bagian dari diriku. Sejak itu aku tahu seharusnya aku membenci
Rana. Rana bukan lagi Rana-ku. Dia Rana-nya.
Lagi-lagi aku
terjaga. Lagi-lagi aku terbangun saat aku baru terlelap selama lima belas
menit. Lagi-lagi petir penyebabnya. Lagi-lagi aku merasa jatuh dan terjungkal.
Aku ingin menangis, dipelukan Rana. Rencanaku untuk menghabiskan malam terakhir
dengan Rana gagal. Padahal ini terakhir kalinya aku harus berusaha. Di hari
yang seharusnya menjadi hari paling bahagianya, siapa yang ingin merasakan
perasaan semacam ini?
“Mara.” Kini aku
berdelusi. Aku mendengar hal yang sama saat hujan dulu. Tapi aku mencoba tetap
rasional, bahwa Rana bukan lagi Rana-ku, dan tidak mungkin kembali.
“Mara bangun.
Ini aku.” Caranya memanggil sama. Ini benar-benar Rana?
“Rana.”
Suara itu
berhenti memanggil namaku. Aku sepenuhnya sadar dan dapat melihat raut wajah
yang lembut dengan senyum kaku dihadapanku. Aku sadar aku sedang dibopong. Ala putri
seperti yang dulu dilakukan Rana. “Ghia” Aku menyebut nama itu perlahan,
sementara Ghia dengan hati-hati menurunkanku di tempat tidur. Kemudian
menggeret kursi dan duduk disampingku. “Ghia”.
Ia tersenyum.
Senyum getir.
“Ghia”
“Iya ini aku.
Tidurlah lagi. Maaf membangunkanmu. Aku akan mengambilkan obat dan kantung
demam. Kamu demam.” Aku tahu apa yang baru saja terjadi melihat rambutnya yang
basah. Aku tahu apa yang sedang ia pikirkan. Aku tahu apa yang sedang ia
rasakan.
“Kamu kehujanan?
Kenapa kesini?”
“Karena.. merasa
perlu? Petir kali ini benar-benar heboh. Aku pikir seharusnya malam ini ada orang yang berbahagia bersama meskipun petir datang. Kamu tidak apa-apa?”
Beberapa saat
aku terdiam. Memikirkan berbagai ‘seharusnya’ di kamusku. Semuanya kini berubah
menjadi ‘ini dia’. Dan berpikir dengan otak kali ini percuma. Aku hanya butuh
hati untuk mengingat. Memori yang tak pernah rusak ada di dalam hati, disebut
perasaan. Perasaanku selalu terbungkus rapi dan utuh didalamnya.
Raga yang sekian
lama menolak, dan otak yang mengambil alih tugas penyimpanan memoriku. Aku tahu
itu yang selama ini salah. Yang membuat Rana terus menerus ada hanya dalam
bentuk khayalan. Dan aku yang merasa berpikir rasional padahal tidak pernah
sama sekali. ‘Seharusnya’ yang kuperuntukkan untuk Rana dimiliki orang lain.
Rana bukan untukku.
Aku tak berani menatap wajahnya. Aku sadar seberapa jelek wajahku saat ini dimatanya. Seberapa perasaan tak suka itu hadir beberapa menit lalu. Aku tahu, makanya aku hanya berkata super pelan, berharap ia paham bukan karena mendengar, tapi merasakannya. “Malam ini,
maafkan aku sekali lagi. Aku benar-benar akan berhenti.” Aku menangis, memeluknya. Tangisan kedua malam hari ini. Untuk pertama kalinya aku memeluk Ghia tanpa Rana di kepalaku.
Aku baru tahu kalau menyadari sebegini menyakitkan, menemukan sebegini melelahkan. Setelah lama aku terombang-ambing, akhirnya
kutemukan perahu yang benar. Yang tidak akan membiarkanku terombang-ambing lagi
– seperti yang dilakukan Rana. Aku pun paham kenapa Rana melakukannya. Karena Rana
sudah cukup penumpang, dan Rana tak bisa diharapkan lagi. Ia punya orang lain. Sama
seperti aku saat ini yang menemukan tanpa perlu mencari. Anehnya aku merasa
lelah meski tak mencari.
---
Labels: Story