Pagi? Siang? Malam?
Entahlah. Aku tidak bisa mengira-ngira tentang waktu yang kau
pilih untuk membukanya. Atau jangan-jangan tidak akan pernah dibuka.
Lima jam, tiga ratus menit, delapan belas ribu detik, satu juta
delapan puluh ribu milisekon lagi. Tepat pukul 00:00:01, tiga maret dua ribu
empat belas. Genap tujuh belas tahun kamu menghirup oksigen. Tujuh belas tahun,
kata orang momen krusial.
Saat dimana kamu mendadak kehilangan gelar “anak-anak”. Gerbang
usia dewasa mau tak mau harus dilewati tubuh mungilmu. Kamu juga tidak punya
alasan lagi untuk diberi angpao seandainya kamu merayakan imlek.
Lalu apa? Adakah harapanmu akan terkabul di usia ini? Adakah kamu
bisa mengambil keputusan yang tepat saat dihadapkan dengan pilihan? Adakah
semua orang menyukaimu tanpa secerca kebencian? Adakah ketulusan itu selalu
menyertai setiap usahamu? Adakah hidup ini akan lebih baik?
Kami berharap. Semuanya, orang-orang itu, temanmu, keluargamu, tak
ada yang ingin jawaban ‘tidak’ untuk seluruh pertanyaan itu. Kami mengamini
disini. Kami punya harapan yang sama.
Dan di kelas itu. Di sekolah itu. Di rumah itu. Semuanya akan
baik-baik saja. Mereka yang cuek tidak seperti yang kamu pikirkan. Mereka
bersamamu. Kamu ada di otak mereka, di hati mereka. Kamu tidak pernah sendiri.
Bisa dijangkau jarak dan waktu.
Tetap semangat dan selamat ulang tahun Kezia Citra Puspita Setjo.
Kami ada.