Yang Mencoba Pergi dari Sang Pembuat Onar
Sunday, February 9, 2014
@8:50 AM
Yup. Tepat jam 11: 50 malam. 10 menit sebelum aku dinyatakan 'terlambat'. Selamat baca. Maaf ya romance dan curhat orang lagi ^ ^ (maklum pesenan) - -
Pandang Bulu
Aku percaya satu hal yang memang
patut diperayai. Orang menamainya cinta. Entah apa yang membuatku harus
mempercayai cinta, seindah apa sampai aku mampu percaya, aku belum tahu. Kata
orang, tak perlu tahu. “Karena kita makhluk hidup yang dianugerahi nafsu. Dan sejujurnya tak perlu alasan untuk memenuhi nafsu bernama cinta.”
Ocehan yang kudengar.
Orang
lain menambahkan, bahwa cinta memang susah di mengerti. Dan itu lagi-lagi
gampang saja kupercayai karena aku sendiri mengalaminya. Dia membuatku percaya.
Pertama kali mengenal cinta, tiba-tiba
aku dihadapkan dengan cinta yang ajaib. Punya mantra yang menghipnotis hingga
‘tak pandang bulu’ itu berlaku. Jika yang dimaksud adalah bulu ayam, maka ia
adalah ayam hutan buruk rupa yang akan menyesatkan, membawaku pada hutan belantara
yang gelap. Tapi siapa tahu kalau ternyata ia menghasilkan banyak telur dan anak ayam yang cantik rupawan. Membuatku menyaksikan warna-warni yang manis. Mengatasi kelangkaan spesiesnya
dimuka bumi ini.
Tapi, entahlah. Faktanya aku tak mungkin diajaknya pergi hingga ke dalam
hutan. Berbicara pun canggung. Dan yang terpenting, dia bukan ayam.
Kalau
mereka pikir aku makhluk paling bodoh karena kenal dengan cinta yang seperti
itu, aku ikhlas membenarkan. Kemarin, lusa kemarin, satu tahun kemarin. Kupikir
aku punya terlalu banyak waktu untuk menyadari perkataan orang lain tentang
seberapa bodoh aku. Aku memang bodoh kali ini. Tapi menyangkut urusan hati, otakku bisa
apa? Nalarku bahkan tak sampai.
“Sudahlah.
Sudahi saja. Kau pikir dia orang sebaik apa?” Dan mereka mencoba menyadarkanku
untuk kesekian kalinya. Aku tahu. Aku pun tahu kenapa aku harus tahu, kenapa aku
harus mendengarkan mereka. Karena dia bukan orang baik-baik seperti yang selama
ini eksis dipikiranku kan?
Aku tahu. Tenang saja.
Tapi
bukankan sudah kubilang kalau dia hanya punya bulu yang tak sedap dipandang,
padahal didalamnya ia punya sisi yang patut disukai. Kelembutan yang bisa
kulihat dari matanya saat berbicara. Tawanya yang aku pahami sebagai sebuah
ketulusan yang tak kudapatkan di tawa yang lain. Walau kenyataannya semua itu
dipatahkan oleh bau tembakau manis yang kini menjadi ciri khasnya. Ia dikenal karena
bau itu, bukan karena kelembutan yang ia miliki. Aku tak pernah paham jalan
pikir mereka, dan sebaliknya mereka tak paham jalan pikirku. Apa yang membuatku
menganggap dia bukanlah masalah, dan kebiasaannya bukanlah hal yang seharusnya
dipertimbangkan dalam menentukan perasaan?
Karena inilah cinta itu. Yang kumau, yang
kumaksud.
Toh akhirnya aku harus menyerah. Toh
akhirnya takdirku tak menggariskan pada aku yang memperjuangkannya. Toh
akhirnya pilihan tak jatuh padaku. Seburuk apapun ia, seikhlas apapun aku
menerima keburukannya, aku bukan satu-satunya. Masih ada orang selain aku yang
menerimanya tanpa pandang bulu, dan ia menerima orang itu tanpa pandang aku.
Kini pilihanku hanya satu. Pandang bulu.
Untuk yang mencoba pergi dari sang pembuat onar–
Labels: Story