<body>
Seekor Semut yang Mencintai Gula di Sudut Lemari
Saturday, February 1, 2014 @8:15 PM





Saccharum et Formica

Semut-semut kecil berbaris rapi. Saling menyalami ketika tak sengaja bertemu. Tanpa identitas, hanya bergelar ‘serangga sosial’ yang bekerja sama membuat sarang-sarangnya. Mengumpulkan makanannya. Gula-gula yang manis.

Suatu hari ia mendapat pesan melalui ponselnya. Dari seseorang yang tak benar-benar ia kenal, tapi ia ketahui. Seseorang yang melibatkannya dalam percakapan sederhana bertema kompleks. Seorang yang membawanya ke awang-awang, lalu menjatuhkannya dengan bebas hanya dengan satu kalimat yang tak bisa dibilang ajaib. Ini sudah yang kedua kalinya pesan itu datang.
                “Kadang aku kurang mengerti maunya. Kami memang tak punya hubungan selain seorang teman, tapi kamu pun mengerti kan, seharusnya ia tak perlu sampai menghindar.” Ia merasa ada yang mengganjal dalam hatinya ketika membaca pesan itu. Pesan itu menyadarkannya untuk yang kesekian kali, bahwa dunia ini punya satu peribahasa ‘ada gula ada semut’. Dimana lelaki itu gula paling mahal, paling manis, dan paling digilai semut-semut di dunia manis. Dunia itu bergantung pada butir-butir kristal gula yang tanpa disadari telah memabukkan. Membuat seekor semut merasakan nelangsa.
                 Tapi toh semua tahu resiko itu patut diemban semut yang mencintai jenis gula yang sama. Limited edition. Sekalipun ia semut paling setia di muka bumi ini, gula itu tak akan menjadi miliknya jika ia tak mau jujur.
                “Mungkin dia berpikir menghindar adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kabar itu.  Tetap semangat! Semua akan baik-baik saja.” Ia memencet tombol enter yang otomatis mengirim jawabannya. Kemudian mengambil sedikit udara untuk dihembuskan tiga detik kemudian. Berusaha mengeluarkan seluruh perasaan di dadanya yang terlampau sesak. Marah, bingung, sedih, cemburu. Ya, tak ada satu pun perasaan bahagia karena telah memberi hiburan pada orang itu. Tak ada. Dia berpikir hanya dia yang perlu tahu sebabnya. Gula dan semut lain, tak perlu tahu tentang peran mereka dihatinya.
                Ia sadar akan gula yang ia cintai. Pengorbanannya tak akan bisa dibilang sedikit. Semut-semut itu sama sepertinya, masih belum buta. Sedang gula itu tak bisa memilih pemiliknya. Gula itu baik, suka pada semua semut selama semut itu menyukainya. Tapi yang paling semut-semut itu inginkan adalah  gula itu pun berubah menjadi semut. Memilih.
                Sudah cukup. Dia merasa kakinya tak bisa lagi bergerak memanjati lemari tempat gula itu diletakkan. Ia pikir ia seharusnya cukup diam seperti halnya semut yang menyalami semut lain. Ia akan berbagi dan dibagi, hidup bergerombol dan damai. Bukannya berebut jenis gula yang sama. Itu meyalahi aturan semut sebagai serangga sosial.
                Biar diam-diam ia menyukainya. Yang bisa dilakukannya hanya berdo’a agar ketika gula ditakdirkan untuk memilih, ia yang terpilih oleh gula terbaik itu. Bukan semut lainnya. Bukan mereka. Tapi syukur-syukur jika ia bisa bertemu semut jantan yang satu familia, genus, dan spesies dengannya. Mencintainya dan jelas bisa memilih. Bukan gula yang memasrahkan segala pilihan padannya, memaksanya menjadi satu-satunya yang mencintai.
                “Ya. Terima kasih. Ternyata memang benar ya, selalu perasaan itu muncul ketika aku dekat dengannya.” Hatinya bergetar sekali lagi membaca balasannya. ‘Aku pun begitu. Aku pun begitu!’
                Tidak bisa. Ia tetap saja seekor semut yang mencintai gula terbaik. Ia masih sama seperti mereka.


Untuk temanku, seekor semut yang mencintai gula disudut lemari

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next