<body>
Hilang
Wednesday, February 19, 2014 @2:19 AM



Lupa! sumpah aku lupa ngepost minggu lalu! dan aku belum punya ide!!

Jadi, ini cerita abal ya sori :3

Ada yang hilang. 
Ketika ia pergi pun aku tak merasakan ia menghilang. Semua tentangnya utuh tanpa ada remahan yang jatuh. Baik rasa dan raganya, masih bisa kurasakan. 
Tapi saat ini, aku tahu ada yang hilang. Hilang seutuhnya, tak berbekas selain rasa kehilangan. Dan aku yakin itu bukan dia.

Lalu aku menelusuri senyummu, mencari-cari sesuatu yang hilang. Berharap menemukan satu hal yang hilang - yang bahkan aku tak tahu apa. 
Tapi tak kutemukan. Kamu masih benar-benar kamu. Tanpa ada yang hilang. Senyum yang masih tipis dan melegakan. Tak mengizinkanku melihat gigi putih cemerlang - yang menyita tiga puluh menitmu hanya untuk menggosoknya sebelum dan sesudah tidur. Tapi senyum itu pula yang membuatku mengerti, bahwa kamu tak bisa merelakanku untuknya. Kamu masih membencinya.
"Tenang saja. Semua akan baik-baik saja." katamu menegaskan apa yang baru saja kamu katakan. Aku merespon hanya dengan anggukan. Senyum kini tak bisa kupaksakan.

Lalu aku menerawang dalam matamu. Menatapnya dalam-dalam. Berharap kali ini bisa kutemukan hal itu, yang membuatku merasa benar-benar menjadi orang ternaif sedunia.
Tapi lagi-lagi tak dapat kutemukan. Matamu masih jernih dan berbingkai lensa cekung. Mata yang menenangkan. Seluruh emosimu dikontrol olehnya. Dan emosiku terkontrol pula oleh emosimu.
"Percayalah padaku. Tak akan ada yang berubah. Aku dan kamu, tetap akan seperti ini. Ada atau tidaknya dia." Dengan hati-hati kamu berucap. Aku tak menjawab, terus menelaah lebih dalam pada bola matamu, mencari ketenangan itu. Ada. Aku yakin ketenangan itu masih ada. Tapi hal itu tak lagi bisa mencapai ketenanganku.

Lalu aku mendengar baik-baik tiap kata yang kau keluarkan. Berharap bisa menemukan keanehan yang akan melenyapkan rasa penasaranku.
Tapi memang masih kamu. Kamu yang selalu berhati-hati dalam memilih kata. Hampir tiga dekade aku hidup, dan kamu adalah manusia paling kaku yang kukenal. Bahasa yang kamu gunakan membuat orang merasa kita baru berteman delapan detik lalu, bukan lebih dari delapan tahun.
"Ia pergi, maka kita tetap harus berada di sini. Kita tetap kita. Kita harus tetap sama."
Tiba-tiba sarafku menegang mendengarnya. Tak mampu lagi mengangguk apalagi berucap untuk memberi reaksi. Sejuta kali aku jatuh, sejuta kali aku bangkit oleh kata-katamu. Tapi sekarang, di kali ke sejuta satu, tidak berlaku lagi. Jangankan bangkit, untuk bergerak pun aku tak mampu.

Aku sudahi di sini. Aku temukan satu yang hilang.

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next