<body>
Bimbang
Thursday, January 30, 2014 @11:48 PM





Telat lagi yey!
Sebenernya lagi gak mood bikin cerita tadi meski ada waktu. Jadi aku buka-buka file cerita lama yang gak keurus. Malah nemu cerita ini. Endingnya kutambah pake yang suami-suami itu XD jadi deh. Makanya kalau bahasaku aneh maaf (bow). Selamat membaca ^ ^
---


 Ini kisah seorang wanita dengan kebimbangannya
Ia lebih memilih ‘antara’ dari pada ‘seutuhnya’
Matanya akan melirik
Tapi kepalanya tak benar-benar bergerak
Lalu ia diam
                Seorang wanita sedang menggoreng telur. Asapnya keluar dari jendela sampai beberapa orang yang lewat di trotoar ikut menghirupnya. Wanita itu menumpas bau tanah yang dibawa angin. Pagi yang sebenarnya dirusak oleh sisa-sisa hujan, menjadi sedikit lebih baik dengan senandung dan aroma masakan yang ia buat.
                Lalu, mata wanita itu melirik ke arah pintu yang terbuka. Ia bisa melihat jari-jari kecil yang memegang knop pintu itu bergetar. Sang pemilik jari-jari kecil itu adalah seorang gadis dengan rambut panjang. Mata bulatnya tampak berharap. Nyaris saja air mata keluar dari sana. Kakinya yang tak beralas sama tegangnya dengan anggota tubuh yang lain. Sehingga ia tetap disana, sampai wanita didepannya bergerak maju.
                “ada apa? Apa mimpi buruk itu datang lagi? Kurasa kau bangun terlalu pagi.” Ucap wanita dihadapannya. Dengan senyum yang sama seperti saat ia pulang sekolah dua hari lalu.
                Diam-diam kekhawatirannya berkurang. Beban di jari-jari dan seluruh tubuhnya seperti terbang bebas melewati matanya. Ia ikut tersenyum, sambil menggeleng. “tidak. Tidak apa-apa. Apa aku bisa sarapan sekarang?”
                “kusarankan untuk menggosok gigi dan mengganti piyamamu itu terlebih dahulu. Ibu akan membuatkanmu susu dan sosis goreng.” Perempuan dewasa itu menyentuh rambut gelap gadis kecilnya. Lalu pindah kebahunya, dan membawa tubuh manis itu ke depan pintu sebuah ruangan lembab yang biasa disebut kamar mandi walau kenyataannya tak hanya dibuat mandi.
---
Wanita itu tidak tahu apa-apa
Bukan maunya
Semua bukan maunya
Dia masih bimbang
                Sepatunya diseret, menimbulkan bunyi yang sama sekali tidak enak didengar. Selalu seperti itu, sampai-sampai ia dan ibunya sering pergi ke bazar butik di dekat rumah mereka hanya untuk membeli sepasang sepatu kecil. Lalu biasanya mereka akan makan es krim. Ibunya akan memilih green tea dan dia sendiri memilih vanilla yang membosankan. Pulang dengan rasa riang. Ah, itu membuatnya semakin muak. Kondisi seperti itu susah diharapkan, tetapi sama sekali bukan mustahil.
                Ia berhenti menggeret sepatunya. Lalu memutar kepala pada pintu pagar putih yang tertutup. Memandangnya intens. Beralih pada pintu dengan papan kayu bertuliskan marganya. Ia mengira-ngira ekspresi ibunya saat ia membuka pintu. Atau seharusnya ia mengetuk pintu, dan membiarkan ibunya memutar knop pintu itu. Dan ia akan bersiap-siap terhadap perlakuan ibunya.
Ah, bodoh. Ia belum terbiasa. Kelihatannya belum mengerti.
                “Ibu, aku pulang.”
Sudah. Ia sudah melakukannya. Langkahnya terus maju sampai ia bisa mendengar suara TV saat ia belum selesai menelusuri koridor sempit rumahnya. Pintu ruang TV terbuka, menampakkan seorang Wanita dibawah 30 tahunan dengan rambut panjang terikatnya. Ia sedang memperhatikan sebuah kotak elektronik bergambar wanita orkestra yang dikaguminya. Wanita itu ikut bersenandung. Gerak mulutnya mengikuti si penyanyi. Ia tampak senang.
“Ibu, aku pulang.” Ia mengulang dengan nada yang lebih direndahkan. Wanita yang dipanggilnya ‘Ibu’ itu menoleh. Ekspresinya datar. Tak memberi senyum atau kecupan didahinya. Lalu melanjutkan dendangannya.
“apa Ibu marah? Apa lagi-lagi aku melakukan kesalahan?” kali ini ia bertanya. Kakinya tiba-tiba jadi dingin. Lagi-lagi ia takut. Belum bisa terbiasa seperti yang ia pikirkan sebelumnya. Seperti presepsi bahwa lama-kelamaan dia akan mengerti dan memaklumi. Dia ternyata tidak seperti itu.
“kalau Ibu benar-benar ma..” mulutnya langsung mengatup, saat ibunya menyela.
“oh, ayolah Ren. Kau agak mengganggu. Bukan. Malah sangat mengganggu. Apa kau pikir aku tidak pantas untuk marah?” Dan, yang ia lihat tadi pagi itu palsu? Atau justru yang asli? “Sudahlah. Cukup tutup mulutmu, dan biarkan hal apapun tak terjadi.”
Tenang Ren. Ini hanya karena kau masih kecil. Entah kapan kau akan dewasa, yang pasti saat dewasa nanti kau akan paham dan dapat mengikuti alur pemikiran ibumu. Dan satu hal, kau telah berjanji tidak akan menjadi ibu seperti ibumu. Kau percaya itu bukan?
---
Kadang dia lupa seharusnya bersikap apa
Kadang dia paham seharusnya bersikap apa
Dia semakin bimbang
                Lampu kamarnya telah mati. Ia tak ingin tiba-tiba wanita itu membuka pintu kamarnya dan untuk kesekian kalinya membuat lebam di pahanya. Jadi meskipun membenci gelap, ia tetap mempertahankan saklar lampu agar tak membuat arus listrik mengalir ke lampu neon di kamarnya.
Matanya beralih pada bingkai foto dibawah cahaya lampu tidur. Fotonya bersama wanita itu seminggu yang lalu ketika darmawisata sekolah. Ia jadi ingat saat malam-malam – setelah foto dengan ekspresi bahagia itu diambil – ia ingin buang air dan wanita itu tak berhenti mengomelinya dan tentu saja dengan satu pukulan di paha. Ibunya memang aneh. Karena masalah kecil ibunya bisa marah habis-habisan. Selalu dilakukannya setelah lama terdiam, melamun.
“Ren, kau masih di situ?” suara khas ibunya  terdengar. Dengan perasaan tak karuan yang tak wajar dirasakan seorang anak terhadap ibunya, ia cepat-cepat bersembunyi dibalik selimut. Buku bergambar yang baru ia baca cepat-cepat ia masukkan disela-sela bantal. 
Selama beberapa menit, ia mendengar ibunya terus memanggil-manggil namanya. Tak satu pun ia sahuti. Sampai  suara ibunya digantikan dengan suara pintu yang berderit. Ibunya masuk, dan dengan perlahan membuka selimutnya.
---
Tapi bagaimana pun,
Dia yang keji, atau yang tersenyum manis
Tetap saja dia
Dia selalu bimbang
                “entahlah. Kau tak akan percaya kalau aku bilang aku pun tak paham kan?” wanita itu berbicara, lebih pada bergumam pada dirinya sendiri. Matanya menyipit akibat air mata yang baru saja berhenti mengalir. Hanya menatap  pada jemari kurusnya yang saling bersentuhan satu sama lain. Hidungnya pun tak kuat lama-lama menghirup udara di ruang serba putih itu.
                “tentu tidak.”
Sinar yang biasanya memancar dari mata tenang lelaki dihadapannya, telah lenyap.
                Habis sudah. Ia tanpa sadar telah membunuh orang-orang yang menyayanginya. Sejak dulu tak pernah rasa itu hilang dari benaknya, begitu pula pada benak lelaki itu. Tapi mereka berpura-pura. Sama-sama cinta tak  membuahkan apa-apa.
“aku mencintaimu. Sampai kapanpun keputusan berpisah bukan yang tepat bagiku. Tujuh tahun sejak kehadiran Ren tanpamu, apa kau pikir itu masuk akal untuk aku tetap mendidiknya dengan baik? Kau tahu, aku terus berpikir Ren adalah penyebab kita harus berpisah. Sebelum sempat pemikiran itu kutepis jauh-jauh, aku sudah melakukannya terlebih dahulu. Begitu sadar, aku sungguh menyesal. Selalu begitu. Sungguh. Aku selalu menyesal. Sehabis kupukuli dia, selalu kuobati lukanya.” Wanita itu semakin liar. Usahanya lepas dari besi yang melingkari kedua tangannya jelas sia-sia. Tapi ia terus saja menjelaskan dengan suara keras, sampai darah mulai bercucuran dipergelangannya. Berusaha meraih lelaki dihadapannya. “aku mencintaimu. Sangat.”
Laki-laki itu hanya diam, menahan air mata yang sejak tadi nyaris menyembul keluar, membuat bola matanya menjadi permata berkilauan. “kau kira apa gunanya penyesalanmu itu?”
Dia tak pernah diam. Terus melangkah, hanya salah langkah.
“sekarang aku disini. Apa kau puas? Ini memang salahku membiarkan Ren terus bersamamu. Ini salahku.” Air mata laki-laki itu tak lagi bisa di tahan. “Memang aku yang diam-diam telah membunuhnya.”
Sedang wanita itu mulai tenang. Kembali duduk di kursi, tempat semestinya ia duduk. Lalu berkata “tidak. Aku memang ibu yang jahat. Ibu paling jahat. Ibu paling jahat”
Air matanya tetap pada tempatnya. Bukannya menangis, ia malah tersenyum. Tertawa sambil mengulang-ulang kalimat “Ibu paling jahat”
“dan aku adalah ayah paling jahat.” Laki-laki itu menambahkan. Menghabiskan jam jenguknya dengan duduk di tempat yang sama, mengeluarkan air mata tanpa isak. Memandangi mantan istrinya yang tertawa lebar.


Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next