<body>
4
Wednesday, January 8, 2014 @3:50 AM




Maaf ya, tapi anda telah memasuki zona alay ^O^
~~~
4

          Kelas memang terlalu sering menjadi setting tempat bagi fenomena dimana kita jadi peran utamanya. Maksudku, mungkin hanya aku yang menganggap itu adalah fenomena, momen, atau apa saja yang dapat dengan mudah melekat di otakku dan kuanggap tak akan terulang lagi. Mungkin hanya aku yang mengkhayal kita lah pemeran utamanya. Seperti ini memang diam-diam. Menyedihkan. Meski kuyakin kamu lebih dari tahu tentang apa yang selama ini berusaha kusembunyikan – sama halnya dengan kamu yang menyembunyikan kerut dikeningmu menggunakan lengkungan yang menarik hati. Hatiku.

Seperti biasa, kelas selalu ramai saat merencanakan sesuatu. Aku memperhatikan setiap wajah manusia didalamnya, memilah-milah nama yang akan kusertakan dalam do’aku. Beberapa ekspresi ketegangan kutemukan. Apalagi sebuah wajah sawo matang dengan alis mata yang nyaris menyatu, melirikku. Aku tahu dia takut karena aku adalah orang yang namanya tertulis tepat diatas namanya, pada suatu buku yang disebut ‘absen’. Tapi tenang saja, dia bukan pula orang yang namanya akan kusertakan. Tenang saja.
      Pandanganku sampai pada wajahmu yang terlalu datar. Kamu memang makhluk yang susah ditebak. Seperti acuh, padahal aku hampir yakin kamu akan terkaget-kaget setelah melihat papan tulis didepanmu beberapa menit lagi. Dan intinya aku hanya mau bilang kalau, tentu saja kamu terpilih untuk kusertakan dalam do’aku kali ini. Namamu seperti punya tombol otomatis dan selalu ada dibaris pertama diantara mereka. Itulah pemeran utama. Sederhana.
     Lalu aku mengalihkan pandangan beberapa senti. Bertemu dengan wajah yang entah mengapa aku merasa jariku akan memerah ketika menyentil pipinya. Terlalu kaku, mematung. Dia lah teman sebangkuku. Aku terkikik menggodanya, saat ia balik menatapku dengan tatapan ‘baru sadar’. Ia hanya tertawa malu-malu, dan aku tak yakin dia mengerti maksud tawaku.
        Hal seperti ini memang terlalu menyusahkan bagi kami, aku tahu kamu pun paham betul. Rasanya suasana ini sudah hampir menjadi fobia. Kami tak kenal sosialisasi dalam ruang 9x9 ini selain pada 9 anak perempuan yang manis – dimataku. Memang bukan kali pertama di hidupku untuk menghadapi kelas baru yang berkubu, tapi yang ini yang paling kentara konyolnya. Untuk berbicara saja butuh  direncanakan benar-benar intonasi dan diksinya. Sampai kami bukan lagi kami didepan mereka, didepan kamu. Entah kami yang bodoh atau kalian yang terlampau kejam. Kami selalu berpikir kalianlah yang patut disalahkan, tapi sudah pasti hal sebaliknya pun terjadi.
      “Seandainya laki-laki, semoga dia.” Kataku sambil menggerakkan bola mata kearah orang yang duduk disebelahmu, teman sebangkumu. Siswa laki-laki satu-satunya yang bisa kuajak berbicara dengan leluasa tanpa harus memunculkan ekspresi, suara, dan ide canggung. Sementara perempuan disebelahku masih dengan wajah tegangnya, menyebut satu-satu nama manusia yang ingin dijadikannya partner kerja - sebut saja begitu - setelah menambahkan kata 'semoga' di awal kalimatnya. Dan namamu ia sebut sambil menyenggol sedikit bahuku. Tahu bahwa aku cuma berharap punya nomer yang sama dengan yang kamu pegang, atau yang dia pegang. Aku hanya mengamini.
        Lalu beberapa menit kemudian aku baru sadar kalau seluruh anak laki-laki dikelas telah selesai memilih, atau memilah-milah kertas yang menurut mereka membawa untung. Termasuk kamu. Aku mendongak keatas, menemukan wajah sekretaris kelas dengan tangannya bergerak-gerak tak sabaran. Dua tangannya bersedekap, belasan gulungan sobekan kertas ditampungnya. Aku mengambil satu tanpa pilah-pilah. Sebelum membukanya aku mendengar suara teman sebangkuku – yang mengambil beberapa detik lebih awal – awas-awas menyebut angka dua untuk dicatat sang sekretaris. Dan langsung dijawab oleh sekretaris dengan menyebut nama teman sebangkumu, tanpa perlu kalimat tanya “Nomor dua siapa?” dari teman sebangkuku. Wajah tegang teman sebangkuku lenyap sudah. Strike. Laki-laki lunak yang baru saja kita bicarakan, menjadi partnernya.
Saat sekretaris menuliskan nama teman sebangkuku di sebuah buku, aku melongok sedikit. Melihat namamu kira-kira mendapat kertas bernomor berapa. Dan aku menemukan namamu ada diurutan keempat, seperti nomor absenmu, persis nomor punggung kaos bola yang kamu pesan. 'Jodoh kamu dengan angka itu'. Pikirku.
Tinggal aku yang harus membuka gulungan kertas yang disobek seadanya ini. Aku membukanya perlahan, diiringi tawa sekretaris dan temanku akibat wajah yang sengaja kubuat berlebihan, untuk memicu tawa-tawa itu. Empat kah? Atau dengan probabilitas sepertujuh belas memang terlalu mustahil? 
Tentu aku hanya bisa pasrah. Meski aku tak mungkin tak berharap, dan kali ini seharusnya ada yang berbeda.


Jika ini yang namanya kebetulan, aku tak pernah berharap kebetulan ini terjadi  dua kali. Aku ingin lebih. Dan jika kebetulan memang tak pernah ada melainkan takdir, aku tak bosan berharap agar takdir itu selalu sejalan.

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next