Belum ada judul ^^
Sunday, December 29, 2013
@1:47 AM
Aku memang menyukai matamu. Seperti apapun kamu
menatapku, aku selalu suka. Bahkan saat ini – saat kamu menatapku nanar dan
kembali menjauhiku.
Sering aku berpikir hal ini akan
terjadi. Maka aku tidak terlalu kaget. Bahwa cinta itu memaksa, itu hukum alam.
Bahwa apa saja bisa terjadi dan kamu memanglah begitu. Inilah kamu yang
kukenal. Lagipula, jeruji ini bukan peghalang yang cukup berarti. Selama ini
kita dipisahkan oleh dinding yang terlalu tebal. Sampai tak sekalipun aku
merasa dekat denganmu, meski aku disisimu. Jadi ini justru sedikit membantu.
Aku hanya tidak habis pikir, jika sudah
mengerti hal ini akan terjadi padamu, mengapa harus kamu yang kusukai. Atau
mungkin karena ini terjadi padamu, maka kamu pantas kusukai? Mungkin jika bukan
kamu, aku akan berlari mencari orang lain yang mengalami hal ini?
Entahlah. Aku seperti sama gilanya
denganmu. Kamu seharusnya tahu ini tidak bisa disebut ringan. Tapi kamu seperti
terlalu lugu untuk bisa memahami. Meski kamu bukan beban. Hanya sebuah tanggung
jawab. Resiko karena dulu telah melihat air mata itu. Dan bukannya seperti aku
yang tak acuh, aku malah mendadak bodoh dan ingin terlibat. Air mata itu
menarikku untuk selalu datang. Guna-guna yang entah harus kusyukuri atau
kusesali.
Sekiranya harus kusesali, hati ini
tak mungkin berkompromi. Aku tak pernah punya rasa penyesalan untukmu. Bagiku itu
awal yang baik. Itu awal dari masalah hidup yang kuanggap wajar – yang
membahagiakan.
---
Langkahku
terhenti.
Sekali lihat aku langsung tahu itu
kamu. Kamu duduk meringkuk, memeluk diri sendiri. Semakin terlihat ruas tulang
punggungmu yang menonjol. Lagi-lagi hujan tak punya pilihan selain menjadi
saksi.
“Sesuatu
terjadi?”
Kamu
mendongak. Memperlihatkan mata sembab dan hidung yang memerah. Menggeleng lemah
dengan senyum menyedihkan. Hujan ini pun menambah suasana melankolis yang kamu
buat. Kondisi ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Ini rutinitas bagi kamu. Kalau
sudah begini aku tak punya pilihan selain duduk di sampingmu, seakan-akan aku
bisa menenangkanmu. Meski aku tidak pernah tahu apa bahu yang kamu buat
sandaran itu menenangkan. Aku hanya
berharap dibutuhkan. Meski kelihatannya tidak akan pernah.
Terhitung
setahun kamu begini. Dan hari yang kamu lalui tanpa menangis bisa kuhitung
tanpa memeras jaringan otakku. Ketika
kamu menangis, aku selalu repot-repot melontarkan pertanyaan semacam “ada
apa?”, “ada masalah?”atau “kamu sakit?” meski aku tahu jawabannya akan senada:
“Baik-baik saja”, “tidak apa-apa” dan yang paling sering kuterima adalah
gelengan.
Bohong jika aku tidak lelah. Meski
akhirnya aku tidak bisa meninggalkanmu, malah tersenyum dan mengusap puncak
kepalamu, memelukmu, membuatmu semakin menjadi dan menangis keras-keras. Lalu setelah
puas, kamu akan menatap mataku lekat, dan tertawa geli. Mungkin geli karena
sudah menangis tanpa sebab. Mungkin, jika kamu memang terlampau gila. Atau
kadang kamu malah minta ditemani pulang tanpa terlihat terhibur. Begitu aku
merasa gagal dan kepikiran. Lalu lega ketika melihat wajahmu kembali seperti
biasa di pagi harinya.
Kamu aneh. Kuakui mereka benar.
Tentang kamu yang tak mau berbicara kecuali ditanya, dan malah berbicara pada
burung di taman sekolah. Tentang nilai kamu yang sempurna meski kamu asyik
dengan buku sketsa sementara guru-guru mengajar. Dan tentu saja, tentang
tangisanmu yang terlalu sering kulihat. Kamu aneh. Dan entah mengapa aku
menganggap keanehan itu wajar jika terkait denganmu. Cocok, serasi, selaras.
---
Aku memang menyukai matamu. Seperti apapun kamu
menatapku, aku selalu suka. Bahkan saat ini – saat kamu menatapku nanar dan
kembali menjauhiku.
Ini sudah seminggu. Kamu masih
memilih menangis sebagai aktivitasmu didalam sana. Berkali-kali isi piring itu
diganti. Tak sekalipun kau sentuh tanpa paksaan. Sampai mereka tak punya
pilihan selain memasukkan cairan infus ketubuhmu. Aku masih ingat bagaimana
kamu ikut memunculkan ekspresi kesakitan saat aku terserang alergi dan butuh
sedikit suntikan. Kamu tidak pernah suka hal itu. Tapi faktanya kamu yang
mempersulit keadaan sehingga lebih memilihnya dibanding makanan pokokmu dulu.
Lalu aku bisa apa? Meski tahu kamu
menyusahkan, meski sadar seberapa sering aku mendapat masalah karenamu, meski
selalu berharap untuk bisa pergi, aku tidak pernah sanggup. Entah apa yang
menahanku, tapi aku pun mengerti inilah cinta – yang kata orang telah buta.
---
Sore itu sudah direncanakan. Entah
semburat macam apa yang menghiasi wajahku hingga beberapa menanyakan
perasaanku. Aku bukannya sedang senang. Aku sedang merasa tertantang.
Sampai-sampai hari itu aku merasa terlalu sering menghela nafas. Hari
kelulusanku sudah lewat dua hari lalu, tapi ada yang salah. Ada yang kurang.
Debaran ini lebih dari sekedar menunggu hasil seleksi perguruan tinggi yang
saat ini pun sedang kamu tunggu.
Kamu
malah sebaliknya. Tak ada ketegangan dalam raut wajahmu. Asyik dengan buku
sketsa dan pensil. Sedang dikepalaku, seluruh saran dari orang terdekatku
memuncak. Kotak dengan pita merah muda yang kubeli di toko buku kemarin sama
mengesalkannya karena terus tergambar dipikiranku.
Kamu menatapku, tersenyum sambil
bersiap berdiri, lalu menghampiriku.
“Selamat.” Katamu, mengambil tempat
disebelahku hanya untuk memberikan ‘selamat’ yang harusnya didapatkan semua
murid termasuk dirinya. Sebenarnya, ini bukan sesuatu yang bagus. Aku malah
paranoid jangan-jangan kamu mendengar suara jantungku atau menyadari keringat
di keningku. Meski aku akan membiarkan kamu tahu suatu waktu – yang aku
rencanakan hari ini – tapi rasanya ini bukan waktu yang benar-benar tepat.
“Ah
iya. Sama-sama.”
Sial. Kenyataannya tak akan pernah
seperti itu. Kamu mana mungkin mendengar suara jantungku. Kamu mana mungkin
sadar. Aku paham seberapa besar peran orang itu di otakmu. Bahkan mungkin telah
menguasai hatimu. Aku seharusnya mengerti bukan? Dan sudah kulakukan.
“Ya?”
kamu bersuara, tak berhenti menatapku. Kamu dengan luwesnya menampakkan senyum itu – yang malah membuatku tak puas.
Selalu ingin melihatnya lagi, dan itu menyusahkan. Bergulat dengan diri sendiri
membuatku sadar bahwa aku, tak ada bedanya denganmu. Tergila-gila.
Aku
menatapnya. Bisa kurasakan betapa palsunya ekpresiku yang kali ini kubuat
seheran mungkin. Canggung. Dan aku yakin kamu juga merasakannya.
“Saya
merasa kamu mau mengatakan sesuatu.”
Tidak.
Ini semakin tidak masuk akal. Kamu menuntutku mengatakan hal yang jelas-jelas
tak mungkin kukatakan? Ini keterlaluan.
“Ya.
Dan kamu sudah mengerti apa yang akan saya katakan.” dengan terbata-bata aku
menjawab. Kamu malah melebarkan senyummu
“Tidak
sebelum kamu mengatakannya.” Cepat dan lugas kamu menjawab. Membuat mataku
melotot.
Kamu
benar-benar sinting. Aku tahu kamu tahu seberapa sering aku menelan ludah sejak
tadi. Aku paham kamu paham seberapa susah ini untukku. Aku mengerti kamu
mengerti. Seharusnya sejak awal ini tak perlu terjadi, jika dia harus ada. Karena
jalan pikiran kita terlalu sama dan sejajar. Seharusnya kita sadar bahwa
kesamaan yang membuat kita tak akan bertemu.
“Suka.”
Kata itu yang bisa terlontar dari mulutku. Kata yang mengganjal tenggorokanku
sejak lama. Hanya kata itu bersama sekotak coklat yang telah kusiapkan –
dihiasi pita merah muda. Dan kamu sudah lebih daripada mengerti.
“Ya,
saya mengerti. Ayo kita coba”
Dan
saat itu kupikir kita sudah resmi menjadi seorang remaja yang mengalami masa
bahagia dalam hal percintaannya.
---
Aku memang menyukai matamu.
Seperti apapun kamu menatapku, aku selalu suka. Bahkan saat ini – saat kamu
menatapku nanar dan kembali menjauhiku.
Seperti
yang kamu tahu, aku tak mungkin meninggalkanmu. Satu bulan bukan apa-apa bagiku
jika dibandingkan tujuh tahun yang kita jalani bertiga. bertiga bersama dia.
Seberapa pun kamu menyembunyikannya, aku tetap akan tahu. Matamu memberitahuku
dengan jelas tanpa keraguan.
Jujur saja, aku membencinya. Seperti
kamu yang membenci calon kakak iparmu sendiri – yang kamu anggap cintanya tak
setulus cintamu. Padahal dia hanya rasional, berpikir jernih dan tak melewati
batas. Bukannya dia tidak sedih, dia hanya berpikir harus tetap bahagia. Tak
seperti kamu.
Aku
pun sama saja. Pemikiran bawa kamu akan berubah menjadi manusia bahagia masih
segar di kepalaku. Aku masih berharap sebelum tak bisa lagi. Meski kamu tak
pernah punya maksud untuk mengabulkan harapanku. Aku masih berharap.
Dan
aku yakin dia tentu punya harapan yang sama. Aku harus mengakui bahwa dalam hal
ini dia – meski kubenci – tak bersalah. Kamu dan aku adalah yang bersalah, dan dengan
sadar telah menyakiti. Maka berhentilah menunggu yang tak pasti. Menunggunya.
---
Suatu
pagi saat di rumahmu. Setelah berbincang dengan orang tuamu, kamu mengajakku melempar remah roti ke dalam kolam yang berisi
dua ikan kecil – yang kamu bilang baru dibeli dua minggu lalu setelah ikan
sebelumnya dimakan kucing tetangga. Setelah memarut roti di dapur, kita
berjalan ke halaman belakang. Tak menghiraukan bau tanah yang menyeruak di
hidung.
Gerimis turun membentuk
permata-permata kecil di rambutmu. Tiap kali ikan itu berebut, kamu
tertawa-tawa seperti ikan itu patut ditertawakan, sambil berkata “Lucu ya?” dan
aku hanya tersenyum. Tidak pusing-pusing memikirkan sisi yang lucu dari ikan-ikan itu.
Lalu
tawamu nyaris hilang ketika kamu menoleh ke arah pintu dapur. Saat kamu bertemu
pandang dengan seorang wanita yang menggenggam gelas dan botol air minum dari lemari es. Kalian sama-sama tersenyum. Bedanya
senyummu jelas-jelas canggung dan palsu. Dan tanpa saling menyapa dengan suara,
dia pergi membawa dua benda tadi kembali ke ruang tamu. Kamu diam beberapa
saat, seperti tak menyadari pandanganku yang tak sedikit pun luput dari matamu.
Begitu sadar, kamu malah melebarkan senyum dan menjelaskan. “Dia pacar kakak
saya. Sebentar lagi akan menikah.”
Aku
mengangguk-angguk, dan mengambil remahan roti dari kantung yang kamu bawa. “Apa
yang salah dengannya?” Aku sedikit memastikan, meski aku sudah mengetahui alur
cerita ini.
Kamu menatapku lekat-lekat di lima
detik pertama, mencoba mencerna. Lalu senyum itu kembali ada. Bagi pujangga
sepertimu ini hanya kiasan basa-basi yang terlalu mudah dipahami.
“Kamu memang yang paling mengerti
saya. Saya jadi tidak bisa berbohong.” Senyum itu mereda. Lama-lama lenyap,
habis sama sekali.
“Tidak
hanya saya, semua orang akan mengerti setelah melihat yang barusan. Senyum itu
terlalu jelas.” Aku melempar remahan itu. Membayangkan kembali wajah wanita
dengan lesung pipit yang ketahuan saat ia tersenyum tadi. Wajahnya cerah,
matanya bulat, senyumnya tulus, melunakkan. Aku banyak menemukan sisi indah
yang tak perlu dipertanyakan mengapa sampai kakakmu bisa suka. Dia patut
disukai. Kamu pun paham.
Kamu
malah tertawa setelah mendengarku. Tawa yang sama palsunya dengan senyum yang
barusan. “Benarkah? Apa saya sebegitu mudahnya ditebak?” sambil terus tertawa.
Lama tak mendengar jawabanku, kamu
berhenti tertawa. Menatap ke arahku yang masih sibuk meladeni kerakusan
ikan-ikanmu. Dari jarak sedekat ini, aku cukup peka untuk menyadari bahwa kamu
memperhatikanku. Aku balik menatap, lalu tersenyum. Lagi-lagi kepalsuan. Bahasa
seperti ini terlalu sering kita gunakan. Aku tahu kamu tak terlalu suka bahkan
tak mau berbicara. Maka matamu kadang berisyarat, yang lama-kelamaan kumengerti
dan mulai terbiasa. Enam tahun cukup lama bagiku untuk mengerti. Kamu tetap tak
mau memberi tahu apa adanya dengan mulutmu sendiri, meski jelas di matamu.
“Dia orang baik. Cantik pula. Tapi
bagaimanapun dia belum cukup mengenal kakak saya. Itu menurut sudut pandang
saya. Hanya itu yang salah. Tapi saya yakin lama kelamaan pasti saya akan
merelakan kakak saya.” Kamu memberi alasan tanpa di minta. “sudahlah. Saya
tidak suka ketegangan seperti ini.”
Kamu tidak bisa berbohong padaku.
Kamu sendiri yang bilang, bahwa aku
paling mengerti kamu. Maka aku mengerti arti tatapanmu ketika melihat kakakmu
sendiri. Tatapan yang berbeda dengan saat melihatku. Berharap.
Ada yang salah denganmu, dengan
matamu, perkataanmu. Bukan dengan wanita itu atau kakakmu. Dan aku jadi sadar,
mengapa selama ini aku harus selalu menenangkanmu saat kamu menangis tanpa
sebab.
---
Aku memang menyukai matamu. Seperti apapun kamu
menatapku, aku selalu suka. Bahkan saat ini – saat kamu menatapku nanar dan
kembali menjauhiku.
“sebaiknya
kamu pergi. Nanti kamu seperti dia.”
Kamu
berkata susah payah. Aku tahu bukan kata-kata yang manis seperti dulu, tapi aku
tetap suka. Kamu mau berbicara adalah sesuatu yang melegakan, sampai mataku
membulat. Tak mungkin aku malah membencimu setelah kamu mau mengeluarkan suara
– semenyakitkan apapun maknanya. Meski aku tak tahu mengapa aku akan berakhir
seperti dia jika aku disini.
Setiap
kali aku kemari, selalu ada sesuatu yang memicuku untuk cepat sampai. Selalu
ada sesuatu yang membuatku beranggapan bahwa kamu adalah hal genting yang harus
cepat diselesaikan. Seperti kamu akan lenyap jika satu milisekon saja aku
terlambat. Seperti dia.
“tidak
apa-apa kalau saya memang harus berakhir seperti dia. Asalkan jangan kamu.”
Ekspresimu
tidak berubah. Tatapanmu tetap sama. Satu tahun sudah kamu disini. Satu tahun
pula mata itu tak mengeluarkan airnya. Dan ini kali pertama aku mendengar
suaramu setelah kejadian itu. Melegakan. Benar, kata itu butuh penegasan
berulang-ulang. Aku benar-benar sedang senang kali ini. Cukup dengan kamu
berbicara.
Aku
tak berharap kamu kembali seperti dulu. Karena kamu menganggap dia adalah
bagian dari dirimu. Dan ketika bagian itu telah hilang, bagaimana bisa aku
meminta agar kamu tetap utuh? Hal itu sesuatu yang gila. Sama gilanya seperti
kamu yang memintaku melepaskanmu.
“aku
menyukainya.”
Kamu
mempertegas, mengingkari perjanjian kita mengenai kata ‘saya’. Kamu
mempertegas, seperti aku tidak pernah melihat air mata itu. Seperti aku tak
bisa melihat perubahan ekspresi yang selalu terjadi pada wajahmu. Seperti aku
buta dan menganggap dia hanyalah sekelebat bayangan hitam di otakmu. Bukan
cahaya emas yang membuatku ciut bahkan hilang.
“saya
tahu.”
Aku
tahu. Aku tahu.
---
Malam
itu pertama kalinya malam berbintang, setelah selama seminggu hujan turun tanpa
ampun. Telepon selulerku berdering, memunculkan namamu. Keningku berkeringat
hanya untuk menjawabnya.
“Halo?”
Yang
kudengar bukan suaramu.
Saat
keluar dari taxi, aku bisa melihatmu sedang duduk di halaman, bersama
lampu-lampu taman yang memperjelas lingkar hitam dibawah matamu. Pandangan
kosong itu sering kulihat. Biasanya dihiasi air mata, kali ini kering sama
sekali. Kamu memang benci bau obat. Itu kesimpulan yang kuambil ketika kita
membolos ke ruang kesehatan, dan akhirnya berpindah ke perpustakaan karena kamu
mengeluh tentang bau obat. Mungkin karena itu kamu tak mau masuk ke dalam. Atau
kamu tak mau memastikan keadaan, lalu menerima kenyataan.
Kamu
hanya tersenyum ketika aku menghampirimu dan mengagetkanmu dengan menyebut
namamu. Kupikir aku yang terlalu berlebihan, sampai aku menyebrang mencari taxi
tanpa jaket setelah telepon dari calon kakak iparmu ditutup. Kupikir hanya aku
yang berpikir bahwa kamu akan menangis meronta-ronta, membanting apa yang ada
di hadapanmu. Kupikir aku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan hingga
berpikir bahwa kehadiranku benar-benar dibutuhkan olehmu. Tapi semuanya
berakhir lebih parah dari itu.
“Kamu
tidak apa-apa?” Aku menanyakan pertanyaan yang retoris, yang membuatmu menjawab
dengan spontan.
“Bagaimana
mungkin tidak apa-apa.”
Benar.
Ketika dia tak lagi bisa kamu lihat, mana mungkin tidak apa-apa.
“Kamu
tahu? Dia telah pergi, lebih jauh daripada sekedar menikah. Dia pergi terlalu
jauh.”
Benar.
Dia pergi. Kamu tak mungkin tertawa lagi. Meski aku disini, disampingmu. Tapi
dia telah pergi kan?
Keberadaanku disini pun tak akan
membantu apa-apa. Kamu cukup hanya dengannya, tak perlu aku. Kamu tak butuh aku
sama sekali. Ada banyak hal untuk menyembunyikan air mata itu. Tidak hanya
bahuku. Seharusya aku tahu itu sejak awal. Bahkan dia yang berada jauh akan
lebih kamu ingat daripada aku yang disisimu. Aku hanya orang yang
membutuhkanmu, tapi tak kau butuhkan. Seharusnya aku sadar sejak dulu.
Esoknya
kamu tak berhenti meronta. Dan sejak itu jeruji kuat memisahkan kita. Kupikir
tak akan apa-apa selama aku bersabar. Ternyata dalam hal ini, aku adalah orang
yang tak boleh bersabar.
---
Aku memang menyukai matamu. Seperti apapun kamu
menatapku, aku selalu suka. Bahkan saat ini – saat kamu menatapku nanar dan kembali
menjauhiku.
Seperti biasanya, semua terlalu
hening. Suara jarum jam yang bergerak tiap detiknya memenuhi ruangan. Kamu baru
saja bangun dari tidurmu, dengan rambut yang tak pernah kamu sisir rapi seperti
dulu. Mimpi apa yang kamu lihat? Siapa yang ada didalamnya? Bagaimana akhirnya?
Bukan
tentangku.
Kamu
langsung menatapku malas. Aku tahu sebabnya karena aku bukan dia. Kamu sudah
bosan melihat wajahku yang selama dua tahun terakhir muncul dibalik jeruji ini.
Tersenyum aneh, prihatin terhadap keadaanmu. Kacamataku sering basah terhadap
perlakuanmu. Tapi kini tak lagi. Tak boleh lagi.
Karena ketika aku datang kesini
nanti, aku tak akan sendiri. Mungkin kamu tidak akan peduli tentang ini, tapi
ragaku tak akan sesering dulu kemari. Bukannya melepasmu, aku tak mungkin bisa.
Kenyataannya
aku tak mau berakhir sepertimu. Aku punya hak untuk lebih bahagia, meski saat
ini bagiku kamu bahagia itu. Sama sepertimu, aku juga ingin dicintai. Dua tahun
sudah aku lupa rasanya dicintai, meski sebenarnya sejak sembilan tahun kita
bersama, tak sedikit pun kamu mencintaiku. Aku ingin hidup normal, dibahagiakan
dan membahagiakan. Aku ingin hidup jelas, fokus pada bahagia yang pasti.
Mungkin
ini juga resiko itu. Meninggalkanmu. Tapi tenang saja. Sembilan tahun itu tak
akan kemana-mana. Menjaganya adalah yang terakhir yang akan kulakukan. Hidupku
saat ini akan menjadi hidup tanpa kamu. Tapi aku menjamin bahwa aku akan tetap
hidup bersama kenangan tentangmu.
Mungkin saat aku masuk ke rumah sakit, aku
akan ingat kamu yang menutup hidungmu. Saat aku mulai mengajar dan melihat ke
bangku paling pojok yang selalu kamu pilih, aku akan ingat kamu. Dan kembali
lagi yang dulu-dulu. Kembali pada saat kita masih bisa tersenyum dan berbohong,
saat aku masih bisa memaafkan dan dibodohi. Lalu mungkin aku akan menelan
ludah, untuk menandakan bahwa aku sudah seharusnya berada pada aku yang
sekarang. Tanpa kamu. Dan bersama mereka. Karena aku memilih bahagia, kamu
memilih gila.
Dan
kuharap kamu selalu ingat, bahwa aku selalu menyukai matamu, bahasamu.
Labels: Story