Sssst
Tuesday, November 12, 2013
@10:04 AM
Puisi.
Bagiku
itu hal yang menyenangkan. Bukannya sombong, tapi kurasa kemampuanku yang paling terlihat dikelas adalah memainkan kata. Bagaimanapun juga aku
lebih menyukai guru bahasa dari pada matematika. Kamu dan seluruh siswa di
kelas juga pasti mengerti kenapa. Aku tak pernah tahu bahwa kalian sebisa
mungkin tidak mengungkit matematika didepanku meski selalu teringat pada hal
itu tiap kali melihatku. Mungkin, jika harapanku tentang kalian yang masih
peduli itu benar-benar ada.
Hari
ini kamu memang tidak terlalu sial. Kamu mendapat urutan ke-8 dari 31 siswa. Memang
tetap saja awal. Tetapi jika menurut absen, kamu seharusnya lebih awal
dipanggil. Kamu pun berjalan ke depan kelas. Tetap dengan keraguan itu.
Aku tersenyum. Memang kali ini aku
mendapat tempat yang sempurna. Bangku paling depan yang paling dibenci siswa
lain, tapi aku merasa beruntung mendapakannya karena bisa melihat wajahmu pada
jarak yang begitu dekat. Ah. Menjijikkan sekali.
Kamu
membacakan karya yang kamu bilang dibuat dengan susah payah itu. Yah, meski aku
tak pernah berbicara denganmu, aku tahu. ‘sst, tapi temanku bilang aku cukup
seram karena hampir tahu semua hal kecil tentangmu’. Tidak juga. Aku tak merasa
begitu selama belum pernah berbicara denganmu. Dan aku merasa kita memang
terlalu jauh. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanya melihat apa yang kau
tulis dalam jejaring sosial. Dalam rangkuman yang kau buat. Emoticon yang
selalu kau pakai. Dan itu semua menyenangkan.
“Indonesia”
Aku
tersenyum. Itu kamu. Benar-benar kamu. Memang tidak mungkin kamu membuat
sesuatu tentang patah hati, kegalauan remaja, dan semua hal tentang percintaan
yang fana. Dan aku suka itu.
Seperti
yang lalu-lalu, suaramu memang tak pernah benar-benar keras meski berat.
Tempomu terlihat tak tenang. Intonasimu tak jelas. Wajahmu gagal
mengekspresikan maksud dari puisimu. Tapi, aku mendengar itu adalah sesuatu
yang merdu.
“aku
nggak suka sama dia. Kayak nggak pernah mau bersosialisasi.” Seseorang
mengomentarimu. Dia bukan orang jahat, hanya kritis. Dan lagi komentar itu
adalah komentar yang hampir sama dari setiap orang yang membicarakanmu
didepanku. Padahal, aku tahu bukan itu. Kamu ingin, tapi tidak bisa. Kamu hanya
bisa diam, bukan hanya ingin diam. Aku mengerti.
“membelamu”
Jujur, aku hanya bisa mengingat kata
terakhir itu.
Dan spontan tangan ini bertepuk
tangan ketika kamu menyudahi dengan anggukan. Berjalan cepat, seperti tak mau
lebih lama lagi berada di posisi menyiksa itu.
Labels: Story