<body>
Gomen.. gomen
Friday, November 22, 2013 @1:50 AM



Maaf T^T Aku gak bisa nepatin janji! ini udah lama kubuat. Dan yang baru2 ini kubuat setelah kubaca ulang ternyata bahasanya amburadul banget!!! Maaf T^T jadi untu nutupi.. aku mae cerita yang mirip sama sebelumnya ini - - habisnya semakin dipikir malah tambah jelek aja gaya tulisanku!
Maaf ><


---


Jari-jarimu panjang dan kurus. Menutup dan membuka lubang-lubang yang terukir pada seruling putih gadingmu. Aku tertegun. Bukan mengagumi kelihaianmu dalam meniup seruling. Tapi wajah dan mata itu – yang memandang lurus pada jari-jarimu sendiri. Bola mata hitam yang umum dimiliki seorang oriental. Bulu mata panjang dan tidak lentik. Kantung matamu yang membesar. Aku mencintai sederhana yang selalu kau buat.
          Tapi tidak bisa. Mata nakal ini tak bisa dan tak mungkin terus memperhatikanmu. Meski kecanduan ini sudah terlalu fatal dan porsinya harus ditambah setiap harinya. Karena mereka memaksaku untuk melakukan hal selain menelaah lebih jauh tentangmu. Mereka, termasuk guru kesenian yang tengah membulatkan mata rabunnya untuk memperingatkanku agar kembali memainkan alat. Dan saat itu aku terpaksa melepas pandang demi segala tetek bengek tentang kesopanan dan angka-angka di rapot.
            Aku bisa melihat dari sudut mataku bahwa kamu berhenti bermain dan melihat kerahku. Tidak hanya kamu, tapi seluruh kelas terpusat padaku. Seperti baru saja diumumkan bahwa eksekusi mati tersadis di dunia akan dilakukan. dan akulah terdakwanya.
Aku tahu kamu hanya mengikuti apa yang mereka lakukan, tapi tatapanmu memang tak pernah sama dengan yang lainnya. Entah hanya aku yang merasa begitu atau memang begitu. Matamu  tidak menyudutkanku. Matamu seperti memberiku pesan bahwa semuanya baik-baik saja. Mungkin karena tatapan itu tak berubah sedikit pun. Tetap sama. Maka bagimu, tak pernah ada yang terjadi. Tak pernah ada hal memalukan itu. Tak pernah ada aku, atau mereka. Kamu punya dunia yang lebih menarik dibanding sebuah kelas munafik ini.
Dan kamu memainkan kembali seruling itu. Duniamu.
Tidak pernah aku menyalahkanmu soal kamu yang cuek dan tersenyum demi senyum yang lainnya. Tapi seharusnya kamu sadar, kamu tidak ingin tersenyum. Kamu hanya merasa perlu agar mereka menganggapmu baik-baik saja.
Bukan. Kenyataannya tidak ada yang baik-baik saja. Ada yang salah dalam diri kita. Aku, kamu, dan mereka. Kamu berusaha menipu kita dengan senyum dan tatapan itu. Kita – kamu termasuk didalamnya. Meski kamu pun tahu tak akan bisa.
Diammu bukan alasan kamu dijauhi. Tapi senyum yang kamu paksakan penyebabnya. Mereka tahu mana yang tulus, dan membenci kamu yang berpura-pura. Kamu tak perlu melakukan apa-apa. Jangan tersenyum, jangan tertawa, jangan berbicara, jika tak ingin. Cukup dengan tatapanmu. Kita cukup mengerti.

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next