123456789
Thursday, June 27, 2013
@3:18 AM
Saya masih tidak mengerti.
Jadi, saya seharusnya bagaimana? Kamu marah dan saya tidak tahu penyebabnya. Mau kamu apa saya tidak akan pernah bisa tahu.
Salah, saya rasa saya tahu mau kamu.
Entah benar atau tidak, saya menduga semuanya tentang nilai. Saya tahu nilai kamu saat itu bukan nilai yang memuaskan hati kamu. Saya punya nilai yang kebetulan memuaskan hati saya. Tapi, saya berusaha untuk tidak puas dan saya tetap belajar.
Kamu, mungkin marah karena saya meminjam buku kamu, dan ikut try out yang kamu ikuti lebih dulu.
Saya paham rasanya karena sejak dulu saya berteman dengan teman yang jauh lebih pintar dari saya.
Dulu, saya malu karena nilai saya selalu lebih kecil dari teman saya. Saya malu dengan urutan nilai saya yang 15 dibawahnya padahal teman saya jarang belajar. Saya mengakui dia lebih pintar. Ketika dia lengah memang sudah semestinya saya melakukan yang terbaik untuk menyusul nilainya dan saya berhasil di tahun kedua. Teman saya, terus saja bilang bahwa dia tidak terlalu berusaha - tidak seperti saya. Saya tahu, dia memang lebih cerdas. Dia tak perlu berjuang keras untuk nilai yang bagus - berbeda dengan saya. Tapi, disaat ia kalah (dan saya juga tahu ini tak akan selamanya) dia tetap diam dan bermain dengan saya. Di hal selain pelajaran dia tetap teman yang biasanya berada di dekat saya. Saya bermain, sama seperti kita dulu.
Memang ada saat dimana kita terpaksa menjadi orang lain. Keadaan yang bahkan memaksa teman menjadi rival. Saya pun tidak selalu sadar hal itu. Dia, selalu memahami situasi. Dia mengerti dimana seharusnya dia menjadi kawan, atau lawan. Ini bukan pilihan, ini keharusan. Bahwa bersaing adalah hukum alam, kita harus terima.
Saya tahu saya tak pantas mengatakan ini. Meskipun saya tahu tentang hal ini, saya belum bisa paham. Saya mengerti, kamu, yang membaca ini, beranggapan saya munafik. Kamu, bisa saja terlalu lelah mendengar kemunafikan saya sampai kamu berhenti membaca ditengah-tengah dan melewatkan bagian ini. Saya minta maaf, dan saya menyesal tentang kemarin.
Kembali lagi, saya seharusnya bagaimana?
Saya tidak bisa membuat nilai saya jelek hanya agar kamu tidak marah. Saya sudah berusaha agar tidak mengungkit soal nilai, tapi inilah saya. Mungkin tanpa sengaja saya menyebutnya. Tapi, mengertilah saya sudah berusaha tidak menyinggung. Dan kamu tahu nilai keseharian saya tidak sebanding dengan nilai ini. Kamu tahu, saya bukan siswi yang selalu (bahkan jarang) mendapat nilai bagus. Saya paham anggapan orang yang merasa saya tidak pantas mendapat nilai ini, atau mungkin kamu berpikir hal yang sama. Saya bukannya tidak benci karena mereka (atau kalian) berpikir saya tidak berusaha. Terserah kalian mau berpikir bahwa saya berlebihan, terserah.
Saya melihat kamu menangis saat itu, dan saya diam. Meskipun kamu tidak memberi tahu saya, saya tahu kenapa kamu menangis. Semua orang pasti tahu.
Kamu tidak mau memberi tahu nilaimu. Saya lagi-lagi diam dan menunggu kamu mau bercerita. Walaupun saya tahu saya akan tahu dengan sendirinya, nanti. Tapi, kamu memberitahu yang lain sedangkan kamu biarkan saya tidak tahu. Saya sebenarnya tak mau tahu. Bukan urusan saya dan saya merasa tidak ada gunanya tahu hal itu. Hanya saja, semua orang pasti akan sakit hati. Saya marah, rasanya wajar.
Hanya yang membuat semuanya tidak logis adalah kamu. Kenapa kamu yang marah? Saya belum bisa paham.
Dan ternyata ketika saya pikir semua sudah baik2 saja, keadaan kamu masih belum cair :)
Tak apa. Saya tak mungkin minta maaf. Meskipun kamu menyatakan saya bersalah.