<body>
SUPERMAN
Thursday, January 28, 2016 @7:27 AM



Ada yang mengumpakannya sebagai Superman. Manusia serba bisa yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Hanya tidak menunjukkannya, bukan berarti tidak punya.

Jika dipikir-pikir, memang benar. Ketika sedikit saja aku terlihat lelah, ia datang malam-malam bersama vitamin di tangannya. Ketika aku melakukan kesalahan, ia menegur dengan solusi. Ketika aku menyalahkan diri sendiri, ia datang sambil berkata "Tidak apa-apa". Ketika sedikit saja aku terlihat resah, ia paham apa sebabnya. Ia menguatkanku dengan nasehat. Dipelukannya yang lembut, dengan lengannya yang kokoh. Supermanku selalu datang di saat yang tepat.

Tapi bukankah Superman juga manusia? Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Supermanku. Tidak juga keringat dan air matanya saat jauh dariku. Di balik senyuman menenangkan itu, mungkin kekhawatiran berkelebat di kepalanya. Kekhawatiran tentang masa depanku. Bagaimana supaya ia bisa mewujudkan impianku - yang ternyata tak bersesuaian dengan impiannya.

Tuhan, kini aku benar-benar takut. Apakah mewujudkan impianku berarti membunuh impiannya?
Supermanku bilang, aku tidak perlu memikirkan apa-apa. Aku hanya perlu fokus pada impianku. Aku hanya perlu berusaha menjadi manusia yang baik, yang selalu mengingatMu dan melakukan sesuatu tanpa berorientasi pada uang. Seluruh nasihatnya berujung pada kebaikanku. Tapi bagaimana dengannya?

Lindungilah Supermanku, Tuhan.


Berawal Dari Tatap
Saturday, December 19, 2015 @6:27 AM



Ceritanya selalu dimulai dengan tatapan. Aku yang menatapnya. Tapi ia tidak pernah menatapku. Tidak apa-apa. Aku tidak butuh apa-apa selain raganya sendiri.
Kenapa manusia selalu memandang remeh cinta pandang pertama? Apa salahnya menyukai hanya dengan sekali tatap? Memang wajar bila kualitasnya dipertanyakan. Awalnya aku juga selalu merasa hal seperti ini tidak benar. Tapi aku melakukannya. Dan pada akhirnya ada beberapa bahkan banyak hal yang tidak kusukai darinya. Lucunya, aku selalu menerima tanpa harus berusaha.

Yang satu ini juga berawal dari tatapan. Kamu menatapku sambil tertawa. Asal kamu tahu, aku tidak menyukaimu. Wajahmu tampan. Sangat. Tapi aku tidak menyukaimu sebelumnya. Bukan, aku tidak pernah peduli denganmu. Bahkan untuk membencimu, aku tidak punya waktu.
Pada akhirnya aku jatuh cinta pada tatapan itu. Waktu yang sebelumnya kuanggap terlalu berharga untuk  mempedulikanmu, kini tersita hanya untuk menatapmu. Mataku terus mencari, telingaku terus menyimak. Di saat aku merasa tidak lagi menyukaimu, aku harus kembali padamu.
Tapi apa kamu tahu? Tidak ada yang bisa kulakukan selain menemukanmu. Sekali pun kita berada di tempat yang dekat, aku selalu merasa sebaliknya. Ketika aku butuh kamu, aku hanya mampu menemukanmu, tanpa bisa meminta pertolongan. Dan aku tidak puas hanya dengan hal itu. Aku menjadi serakah. Tapi sebanyak keserakahan itu datang, aku juga sadar bahwa tidak ada yang mampu memenuhinya ketika kamu sendiri tidak mampu.
Sama halnya dengan malam ini. Mataku masih berkeliaran dalam kerumunan itu untuk menemukanmu. Temanku bertanya-tanya, siapa yang kucari. Aku tak pernah menjawab untuk membuat mereka menduga sendiri. Karena aku tahu mereka cukup percaya diri dengan dugaan mereka. Untunglah dugaan mereka selalu salah.
Aku lagi-lagi menemukanmu. Senyumku melebar.
Alasanku mencarimu adalah kenangan itu. Aku merasakan deja vu. Kita pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, berbagi api untuk menghidupkan lilin. Apa kamu masih mengingatnya? Pertanyaan itu membuatku ingin melihatmu. Aku ingin memastikan lewat ekspresimu, meski aku tahu tidak akan mendapatkan petunjuk apa pun.
Posisimu sangat dekat dariku. Aku ingin sekali menghambur untuk membuat kejadian lalu benar-benar terulang lagi. Tapi lilin di tanganku pun tahu, aku tidak bisa. Tidak boleh.

Dan pilihanku adalah berbelok padanya. Dia cinta sekali pandangku. Yang bisa kudatangi kapan pun aku mau. Yang tidak hanya untuk ditemukan, tapi juga digapai dan dibawa kedalam rengkuhan. Tidak ada tatapan dan senyum manis. Cukup dengan api kecil, tangan yang ikhlas terkena lelehan lilin, dan keberadaanmu. 
Aku menyukaimu sekali lagi.


When you nod your head, yes!
Thursday, November 12, 2015 @10:29 PM



Dokter. Profesi gila yang rata-rata terpikir pertama kali di otak manusia-manusia kecil itu. Cita-cita klasik dan trendy di masanya. Dan setiap orang punya masa yang beda-beda. Aku contohnya. Di saat yang lain mengusahakan sejak dini, rata-rata TK sampai mentok di universitas, aku malah baru mulai di SMA. Dan entahlah kapan masa itu berakhir.
Entah ini cuma presepsiku atau apa, cita-cita dokter lebih sering jadi persinggahan sementara. "Mau jadi apa?" "Dokter." Fase itu hampir selalu pernah dirasakan setiap orang. Faktanya kebanyakan berakhir tak sesuai keinginan di masa itu.
Waktu kecil aku merasa keren. Karena di saat yang lain punya jawaban sama, yaitu dokter atau polisi, aku jawab keras-keras "Arsitek." Aku cuma ngerasa mereka yang jawab dokter, nggak akan mempertahankan cita-cita itu dalam waktu lama. Well, memalukan sekali kalau ternyata sekarang aku malah jawab dokter.

Bismillahirrohmanirohim. Apa pun itu semoga yang terbaik dan diberkati. Aamiin.


Sesuatu yang datang
Wednesday, August 12, 2015 @8:10 AM



Akhir-akhir ini gerimis sering datang. 
Hanya gerimis.

Labels:



I Beg
Monday, February 2, 2015 @3:15 AM



"typing.." 
Came out for two minutes
And I just received

":p"



Giving me a hope?
Playing dirty.


Go away.





.
.
.
.





Please.


Friday, December 12, 2014 @7:20 AM



I dont know why....
                  kenapa aku

Somehow it's too coincidental
Tapi percaya coincidence is not an excuse

Fate?
                   Another bullshit

                              Agh toooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo weird

I don't wanna make it bigger but it's not like I want her to being not serious it's just so annoying so I choose to shut my mouth but see what happen when I don't say anything to her like she don't care or I was the one who made her like that and I just angry to myself then assume she as an enemy but she just too pure to become an enemy so I acting like I can't understand what the real problem is but you know I feel guilty inside oh haha
Please.

Who is she? T^T
Kok aku harus mikir jauh banget~


Aku Lebih
Friday, November 14, 2014 @4:52 AM



Jelang-jelang petang
Matahari hampir hilang
Kamu duduk, menunggunya datang

Siapa?
Jalang yang menarikmu itu?
Aku bosan mendengarnya
Tidak bisakah hidupmu kau hidupi
tanpanya..

Tanda tanya tak benar-benar kusertakan
Aku punya jawaban yang cukup jelas

Dasar sinting

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next