<body>
Rambut di Kepala
Saturday, May 20, 2017 @10:25 AM



Akhir-akhir ini otak saya dibebani pikiran tentang hijab. Sebenarnya apa makna hijab? Seberapa jauh perannya dalam pemenuhan syariat Islam?
Saya kira kebanyakan orang kini telah paham bahwa aurat bagi wanita tidak hanya sekedar rambut, meski rambut adalah hal terawan. Kita punya bagian tubuh lain yang perlu ditutupi. Dan fakta bahwa hampir seluruh tubuh kita ditumbuhi rambut tidak dapat dimungkiri. Karenanya sangat masuk akal apabila rambut yang tumbuh di kepala kita ini tergolong aurat.
Namun apabila boleh sedikit menilai, saya rasa masih banyak yang  memprioritaskan rambut yang tumbuh di kepala. Saya juga tahu, saya salah satunya. Masih sering saya mengoptimalkan agar rambut di kepala saya tertutup sempurna, tetapi tidak menutup bagian yang lainnya.
Hanya saja agaknya lebih banyak yang tidak lebih sadar daripada saya. Kadang saya suka risih pada mereka yang berjilbab, yang memandang rendah mereka yang tidak mengerudungi kepala mereka. Bukankah ini semua tidak hanya tentang rambut? Seremeh itukah makna berhijab hingga menjadi takaran penilian sekali pandang?
Bagaimana dengan kita yang membiarkan punggung kaki tanpa kaos kaki? Atau punggung tangan tanpa deker? Apa dosanya akan lebih ringan? Berhakkah kita berpikir demikian?

Tentu saya sangat benci bila harus mengakui pernyataan tentang hijab sebagai mode. Yang demikian itu membuat saya bertanya-tanya, mungkinkah jika saya hidup dua puluh tahun lebih awal, kesadaran berhijab belum menyentil saya? Mungkinkah saya korban mode? Ataukah ini sekedar keberhasilan orang tua saya dan pengaruh lingkungan? Pernyataan pesimistis semacam itu kerap mengganggu saya. Dan saya yakin yang demikian juga sempat terpikir di benak sebagian yang memilih berhijab karena begitulah yang harus terjadi di lingkungannya. Sama halnya dengan pernyataan yang baru-baru ini menjadi viral, tentang seorang perempuan yang mengaku bahwa Islam baginya hanyalah bawaan dan bukan pilihan. Saya hampir yakin pernyataan seperti itu terikrarkan akibat kecemasan yang terlintas setelah  pengambilan kesimpulan oleh masa. Kesimpulan itu terupgrade dengan sendirinya menuruti idealisme subjek.

Menghadapi hal ini, saya rasa yang paling dibutuhkan adalah pembenahan presepsi. Hal ini hanya dapat terjadi apabila bahan yang dibutuhkan untuk membenahi cukup banyak, hingga makin mantap lah kriteria baik buruk yang kita libatkan. Maka pengetahuan menjadi sangat penting. Pemikiran kita tidak bergantung pada presepsi banyak orang, kesimpulan masa. Kita dapat memilih dan menyimpulkan sendiri sesuai bahan yang kita miliki. Sehingga tidak ada keragu-raguan karena kita sendiri yang menyimpulkan.

Apabila hal ini dikaitkan dengan hijab, maka kita harus terlebih dahulu mengerti definisi hijab. Kita harus paham mengapa ada penganjuran (bahkan kewajiban) berhijab. Daripada memukul rata seluruh penggunaan hijab sebagai mode dan bukan untuk memenuhi aurat, alangkah baiknya apabila kita bersikap lebih teliti dan membersihkan otak kita dari presepsi yang bersifat stereotip. Hijab tidak hanya soal rambut. Hijab berarti penghalang yang menutupi aurat kita dari pandangan orang yang bukan muhrim. Saya rasa mudah sekali memahami hal ini. Maka seharusnya kita berhati-hati dalam membedakan hal ini dengan kerudung atau khimar. "Saya sudah berkerudung" tentu berbeda dengan "Saya sudah berhijab." Kerudung lebih difungsikan untuk menutup kepala sementara hijab berarti menutup keseluruhan aurat yang dimiliki. Islam mewajibkan kita untuk menutupi aurat, tidak hanya kepala. Maka wajiblah bagi setiap muslim untuk berhijab, bukan sekedar berkhimar apalagi berkerudung. Lalu mengapa begitu khawatir saat sehelai rambut terlihat tetapi sama sekali tidak peduli bila jari-jari kaki terbuka?

Pernah suatu kali saya ditegur teman saya karena terpaksa mengambil wudhu di salah satu mall dengan tempat wudhu yang memang cukup terbuka. Saya sadar laki-laki banyak yang lalu lalang di belakang saya. Tapi saat itu saya tidak punya pilihan lain. Kamar mandi penuh sesak dan adzan Ashar sudah dekat. Posisi saya mengejar Dhuhur. Teman saya juga sama keadaannya dengan saya. Ia berwudhu di sebelah saya. Yang membedakan adalah frekuensi terbukanya jilbab kami pada saat itu. Ia hanya membuka peniti yang mempererat jalinan kerudung tanpa menggesernya lebih jauh. Saya menggeser kerudung saya dengan sempurna, maksud saya agar tidak basah terkena air karena memang rambut saya panjang sekali. Yang saya dengar, dalam berwudhu, paling tidak rambut di kepala basah sebanyak sehelai. Lalu teman saya mengatakan tidak perlu saya membuka sejauh itu, banyak laki-laki yang melihatnya.
Lalu bagaimana dengan lengan baju saya yang juga tersingkap hingga melewati siku? Dan kaki saya yang terbuka hingga mata kaki? Mengapa saya tidak mendapat komentar tentang itu?

Saya tahu yang saya lakukan sama sekali bukanlah hal yang tepat. Tapi bagi saya sikap teman saya juga kurang hati-hati. Saya tidak berusaha mencari pembenaran atas kesalahan saya, tetapi hal itu membuat saya berpikir presepsi orang kebanyakan mengenai hijab saat ini memang benar-benar hanya menutupi rambut. Seakan-akan aurat perempuan hanyalah rambut. Dengan demikian saya rasa tidak salah apabila saya menyimpulkan kebanyakan dari kita masih belum menerapkan konsep beramal dengan ilmu.


Maka, Berpikirlah Rasional
Friday, February 3, 2017 @7:09 AM



Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang membuat saya berpikir dua kali. Saya suka sekali menilai diri saya meskipun tahu hal tersebut tidak patut dilakukan. Termasuk pada kasusmu, saya perlu mengoreksi kembali kesimpulan saya dulu.

Maaf, seperti yang kamu kira, saya memang menyukai kamu. Terlepas dari elemen rohaniah yang sudah terlalu sering saya bawa-bawa untuk melepaskan perasaan suka ini dari hati saya, saya tidak pernah benar-benar membencimu. Dan itu justru yang lebih saya benci. Saya benci perasaan suka saya – yang selama ini tidak pernah saya ikrarkan karena berpikir hanya akan membuat saya tersiksa. Asal kamu tahu, segala perasaan saya akan resmi ada apabila dituliskan. Karenanya tulisan ini adalah suatu peresmian yang baru. Yang saya akui.

Hahaha, lihatlah betapa bodohnya saya. Saya selalu seperti ini. Tidak tahu lagi saya mana yang sedang bekerja, otak atau hati. Mungkin tes kepribadian online yang saya isi dengan paksaan orang dekat saya saat itu dapat dipercaya juga. Katanya  saya adalah orang yang bekerja dengan rasa. Sense. Atau apa saja. Saya akan berhasil jika bekerja di bidang penuh rasa. Tipikal advokat yang membela segala hal karena memikirkan rasa, chef yang menakar tanpa melihat resep, pemusik yang  pandai menahan emosi. Sungguh hampir seluruh yang disarankan sudah pernah saya coba lakukan, tapi kurang lebih hasilnya membuat saya trauma.

Kembali lagi, saya tidak tahu hati saya yang sedang ramai oleh bunga-bunga musim semi atau otak saya yang sedang segar. Saya menulis dengan begitu lancarnya. Tidak ada ide yang dikonsep, saya hanya mengatakan apa yang pertama kali muncul di kepala saya, dan ada kamu di sana. Maka sekiranya kamu membaca ini,  bacalah dengan otak kamu yang mereka anggap penuh ide itu. Berpikirlah rasional. Kiranya apa aku masih bisa dikategorikan sebagai yang tahu diri dengan bersikap demikian. Cukup mainkan saya dengan otak kamu. Saya tidak mau ditelanjangi pula oleh hati kamu.

Maksud saya, tidak perlu lah kamu beri saya harapan. Kondisi saya ini cukup mengenaskan. Sedikit saja kamu berbuat baik pada saya, maka akan saya anggap itu perlakuan luar biasa. Seperti steak bagi anak perantauan, atau cocktail bagi musafir di gurun. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan saya, tetapi memberi kemewahan. Hal seperti itu yang membuat saya jatuh semakin dalam.

Sebaliknya, kesalahan yang kamu lakukan hanya menghadirkan kesal sesaat. Saya tidak akan banyak berubah. Inilah yang menjadi ralat, objek koreksi yang saya sebut-sebut di awal tadi. Dulu saya pikir saya adalah orang yang mudah menyukai dan mudah membenci. Dulu saya pikir saya hanya gampang menilai orang saja. Mudah memutuskan sesuatu. Tidak kenal ampun. Kesan pertama akan menjadi kunci di otak saya. Lalu setelah menimbang untuk membuka hati atau tidak, kunci itu saya musnahkan. Dan mudah saja membuat kunci yang baru jika sewaktu-waktu kamu melakukan sesuatu yang berkebalikan. Jika awalnya pintu itu telah terbuka, maka akan saya tutup. Jika tertutup maka tidak sulit untuk membukanya. Begitu mudahnya saya dipengaruhi.

Dan izinkan saya mengubah penilaian itu. Ternyata saya cukup setia pada hal yang bodoh. Kesetiaan saya benar-benar tidak tahu diri. Mudah jatuh cinta dan sulit keluar dari jurang itu. Mungkin kamu perlu seribu kesalahan lagi untuk membuat saya pergi. Atau saya perlu mencari sejuta alasan untuk membencimu.

Beginilah ikrar saya. Orang yang akhirnya mampu berikrar, setidaknya demi menghindari munafik kepada diri sendiri.

Yogyakarta, 3 Februari 2017.



Senyum
Tuesday, January 17, 2017 @9:32 AM



            Saat itu, aku menyadari seluruh kepekaan inderaku membuncah, terutama pendengaran. Bukan. Mungkin salah besar jika disebut peningkatan kepekaan. Lebih tepatnya, aku hanya mampu mendengar napas kami yang bertempo, bersahutan satu sama lain. Background off. Hyperacusis. Atau istilah lain untuk menyebut pemosisian sesuatu yang lebih dari seharusnya. Sampai di waktu tertentu, aku terpaksa menahannya demi tidak mendengar peraduan milikku dan miliknya. Karenanya yang paling kubutuhkan adalah suara. Suara apapun yang lebih nyaring daripada embusan napas kami. 
            Pasalnya, selama dua jam terakhir aku dihidupi oleh suara motor matic yang kami tumpangi. Aku bersyukur ia mengendarainya dengan kecepatan di atas normal. Paling tidak gemuruh mesin yang semakin heboh dan rintik hujan yang semakin dahsyat menghujami wajahku dapat menjadi pengalih perhatian utamaku. Tentu saja juga berarti mempersingkat perjalanan kami, menurunkan probabilitas kematianku akibat teralalu lama menahan napas. Kecanggungan dan rasa bersalah di punggungku kian ringan.
            Namun belum genap rasa syukur ini kuhaturkan, mataku seketika membelalak menyaksikan dua digit angka yang tertera di lampu apil. Segmen-segmennya membentuk angka sembilan dan nol. Motor direm, berhenti tepat di belakang garis marka. Bagus. Kami punya waktu untuk mendekatkan diri. Begitulah logika yang tepat.
Tentu saja daripada melihatnya sebagai kesempatan, aku lebih setuju dengan hipotesis bahwa satu setengah menit ke depan mungkin aku akan mati suri. Sungguh aku tidak menyangka bahwa nasib benar-benar tidak di pihakku. 5400 milisekon itu tidak akan menjadi apa-apa jika saja bukan laki-laki ini. Situasi dan orang yang terlibat tidak nyambung. Dan ini pertama kalinya aku diancam waktu dengan tawaran sesadis ini. Aku kehabisan akal. Gemuruh motor, penyambung hidup kami itu, sirna. Dan kini yang bisa kulakukan hanyalah memandangi angka yang berubah setiap detiknya. Berharap dengan demikian kecepatan perubahannya menjadi dua kali atau lebih-lebih tiga kali lebih cepat. Lalu kami akan melanjutkan perjalanan sambil kembali berada dalam lamunan masing-masing.
Hingga sudut mata kiriku menangkap sesuatu yang bergerak heboh. Aku menoleh spontan. Tepat di samping kami, mobil berasupan solar berhenti. Dari celah jendela yang kuduga dibuka sebagai upaya mencegah pengembunan, aku melihat batita menatapku sambil mengusap-usap kaca jendela. Lidahnya dijulur-julurkan khas bocah menyambut gigi sulung. Aku tersenyum, diikuti senyumnya. Ia tampak malu-malu ketika aku melambai, lalu tertawa ketika aku menjuluran lidah, berusaha membuat ekspresi lucu. Jadilah kami berinteraksi dengan bahasa wajah. Tidak biasanya aku disukai anak kecil.
Cukup lama kami berkomunikasi. Di sela-sela aku mengutuk perbuatanku beberapa menit lalu – memakan permen terakhir di kantungku sehingga aku kehilangan kesempatan memberikannya untuk si kecil di hadapanku ini – aku menangkap penampakan di kaca spion motor. Senyum yang sangat manis, yang kusadari merupakan reaksi terhadap perbuatan kami – aku dan anak kecil ini. Mata laki-laki itu menatapku melalui bayangan cermin. Ia sama sekali tidak mencoba menghindari tatapanku saat tertangkap basah. Malah aku yang melakukannya. Aku tidak tahu sejak kapan posisi spion itu berubah sehingga ia bisa melihat  wajahku, dan aku melihat wajahnya. Yang jelas bagiku itulah momen terbaik yang kami miliki selama dua setengah jam perjalanan kami. Dan lampu pun berubah hijau.
Sebenarnya ada pemikiran terkutuk yang sempat terlintas di benakku. Andai saja aku bersama orang lain – siapapun selain orang yang saat ini bersamaku – pastilah akan menambah kenangan bergenre romantis di hidupku. Kami hanya berdua. Setiap yang kami lakukan hampir selalu merepresentasikan perbuatan pasangan muda yang sehat. Segala perbuatanku pertama-tama kuawali dengan memikirkan dampaknya terhadap lelaki itu. Entah ia berpikir sama atau tidak, tetapi aku merasa juga diperlakukan istimewa olehnya. Hanya untuk dua setengah jam hal ini terjadi, sebelum akhirnya aku kembali menjadi upik abu yang hina. Namun secepat akal sehatku kembali, secepat itu pula aku membuang jauh pemikiran yang bagaimanapun terdengar salah itu.
Jujur saja aku ingin menjelaskan lebih banyak lagi tentang senyumnya. Tentang satu giginya yang lebih maju daripada gigi-gigi lainnya sehingga membuatku makin menyukai senyumannya. Tetapi senyum itu mungkin tidak pernah punya arti apa-apa. Jadi biarkan senyum itu menjadi salah satu dari ribuan senyum yang kulihat sebagai basa-basi semata. Tidak pernah ada penjelasan lebih jauh yang mendasarinya.

30 Desember 2016


Hai Intan
Thursday, October 6, 2016 @10:28 PM





Intan, di sini ada ratusan tempat indah. Dari semuanya, mungkin tidak sampai satu persen sudah kukunjungi. Ada banyak alasan. Sayangnya bukan hanya soal keterbatasan waktu dan dana. Itu nomer dua. Padahal kalau itu adalah kota kita, hal tersebut akan menjadi alasan utama.
Setiap kali aku mengetahui suatu tempat, entah itu lewat gambar nyata atau gambaran orang lain, otakku selalu ikut membayangkan. Dan selalu ada orang tuaku, lalu kamu di sana. Aku bukannya berlebihan, tapi memang itu yang terjadi.

Ketakutanku waktu itu ternyata tidak beralasan. Perpisahan kita waktu itu memang kurang meriah, tapi kenyataannya kamu tidak benar-benar memisahkan diri. Kamu ada di mana-mana. Dan itu membuatku bertanya-tanya, apa mungkin keputusan untuk sering melihat satu sama lain dahulu adalah salah. Kita terlalu sering bertemu, sampai hampir setiap hal, memanggil kembali memori tentang kamu. Aku sering tiba-tiba tertawa. Misalnya ketika melihat helm, atau melihat dosen linguistik yang ternyata mirip Pak Wardi, atau hape teman yang retak layarnya. Ada kamu di sana. Dan mungkin itu salah satu dari sedikit momen di mana aku benar-benar tertawa di kota ini.

Aku pikir aku punya kelainan. Sindrom tertawa berlebih yang kita sebut-sebut dulu, kupikir memang benar-benar ada. Tapi ternyata di sini aku berhenti tertawa. Aku lupa kapan terakhir pura-pura tertawa saat di SMA, tapi di sini, hal itu kerap terjadi. Fake personality kian lama kian dahsyat menguasai perilakuku.\

Kelihatannya aku patut menuntut pertanggungjawabanmu atas semua kekacauan ini. Dan juga, maaf ya baru bisa mengucapkan sekarang. Tapi hari ulang tahunmu ini cukup untuk mengacaukan rundown yang sudah susah payah aku desain. Hari Jumat sebagai hari teraturku benar-benar rusak. Acara seminar aku batalkan, apalagi acara cuci baju, hihi.

Semoga kamu tidak merasakan hal yang sama ya Intan, karena ternyata sama sekali bukan perasaan yang patut disyukuri. Selamat ulang tahun yang ke sembilan belas. Terlalu banyak harapan yang selalu punya cacat jika dibahasakan dengan kata-kata. Selalu lakukan yang terbaik di mana pun kamu berada :)
Aku sayang kamu. MUACH.


I'm sorry for blaming you
Friday, September 23, 2016 @8:11 AM




Saya belum tahu mana yang lebih baik. Menjadi yang disalahkan atau yang menyalahkan.
                Butuh waktu lama untuk saya menyadari bahwa yang saya lakukan selama ini hanyalah menyalahkan. Padahal hampir setiap saat saya berpikir, setiap makhluk tak pernah mau disalahkan. Mereka ingin setiap ucapannya dianggap benar, perbuatannya dianggap tepat, bahkan pengakuan atas kesalahannya ingin dianggap sebagai keputusan brilian. Sekali lagi, ternyata selama ini saya adalah pihak yang menyalahkan.
                Cukup banyak kesalahan yang saya artikan sebagai kesalahamu. Sungguh, saya minta maaf. Dan saya mau permintaan maaf saya dianggap hal baik olehmu. Saya terlalu lama terkekang dalam kemunafikan yang katanya dipelihara lebih dari separuh manusia di bumi. Apa daya, saya termasuk mayoritas yang seharusnya tidak diasingkan.
                Ngomong-ngomong soal asing, mungkin hanya saya yang memikirkan hal ini secara berlebihan. Saya kurang lebih berbasis sastra (Maaf, apabila ada yang tersinggung), maka maklumi pemikiran saya yang terlalu sensitif ini. Padahal kamu sudah lama lupa tentang hal konyol yang demikian. Tapi sedikit pun tidak hilang dari otak saya, soal dunia kamu yang bagi otak saya sungguh luas itu. Mata saya menemukan kamu bahkan pada guratan merah di pipi teman saya. Tapi bukan ini yang terpenting.
                Kembali soal menyalahkan. Saya terus terusik dengan keberadaanmu. Saya benci senyum kamu yang ternyata menyebar nyaman. Atau mata kamu yang memancarkan tenang. Dan parfum kamu yang ternyata menyeruakkan kangen. Maaf sekali lagi, ini sungguh berlebihan. Tapi memang itu yang terjadi. Hampir setiap malam saya repot-repot mengeluarkan kamu dari pikiran karena terlalu jijik. Fobia. Petaka.
                Tapi apa kamu tahu butuh berapa lama untuk Tuhan merubah presepsi seseorang? Saya benci perasaan campur aduk yang selalu hilang identitasnya hanya dalam sepersekian detik. Saya menyukai saya yang membenci kamu. Tapi Tuhan memberikan waktu untuk saya bertemu dengan perasaan itu tak kurang dari satu tahun. Maha besar Ia hingga lima tahun terakhir saya tersiksa dengan kutukan saya untukmu.
                Ketika menurut pengakuan kamu, kamu tidak lagi mencoba untuk mengusikku, kenapa kamu malah membuat saya terjungkal? Saya benci karena telah sadar, bahwa tidak sedikit pun kesalahan ada pada kamu. Tidak juga pada perasaan saya. Tapi pada keputusan saya.



Mungkin Aku Hanya Berdelusi
Saturday, April 16, 2016 @2:41 AM



Malam itu, kupikir akan menyenangkan. Tawa akan hadir terlalu banyak, perut akan terlalu penuh, dan waktu akan berlalu terlalu cepat. Kupikir akan seperti itu.
Maka aku menolak dengan halus. Ada sebagian dari diriku yang tidak pernah kusangka akan merasa lelah dan ingin diam saja. Mungkin bukan karena aku tidak jenuh. Lebih pada rasa bersalah pada mereka yang turut berjuang, tapi tidak menikmati apa-apa. Karenanya, kuanggap ini bukan waktu yang tepat. Mungkin tidak sekarang. Dan syukurlah, semua aspek memilih bertahan pada egonya, bahkan kucing dengan mata berbinar-binarnya. Aku tertawa teringat adegan di salah satu film tentang oger hijau buruk rupa dan putri cantik di kastil mewah.
Tapi seperti yang kukatakan tadi, semua aspek bertahan pada egonya, termasuk aku. Pada akhirnya aku sampai juga pada momen yang kupikir akan kutunggu-tunggu karena aku terlalu muak dengan angka dan kalimat teoritis. Kau tahu, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menikmati hasil yang selama ini telah kita perjuangkan.
Lucunya, perkiraanku tidak seakurat itu. Di sana tawa tidak sesering itu terdengar. Perutku penuh, sangat penuh. Tapi saat memenuhinya, aku masih sempat menakar. Dan waktu yang berlalu.. Kuakui memang cukup cepat berlalu.
Daripada tawa, yang paling melekat di memoriku adalah air mata. Setelah tertawa cukup lama, kami malah menangis sejadi-jadinya. Entah menangisi apa. Aku sendiri tidak merasa pantas melakukan itu. Apa yang kurasakan pada saat itu pun juga tidak benar-benar kuingat. Hanya saja momen membawa perasaan kita pada titik semrawut. Entah bagaimana perasaanku saat itu, yang jelas aku bukannya sedih atau pun senang. Dan pikiranku melalang buana hingga ke detail terkecil. Bukan ke tempat yang lebih jauh, melainkan mengerucut pada hal yang selama ini tidak kusadari.

Teman, pertanyaan sebenarnya adalah : Apa aku pantas memiliki perasaan yang demikian?
Aku merasa Tuhan terlalu baik padaku. Tuhan memberiku kemampuan merasakan senang - di waktu yang bagimu salah - hingga aku merasa memiliki. Membuatku seolah salah paham dan tidak sadar akan porsiku.
Karenanya aku sampai pada kesimpulan bahwa dibalik seluruh fakta yang ada, mungkin aku hanya berdelusi hingga tidak sedikit pun aku menyesal. Di matamu mungkin tindakanku terlihat bodoh. Tapi kau tahu, bukan aku yang mengatur perasaanku. Aku tidak punya kuasa akan hal itu. Dan aku mencoba untuk mengikuti arus yang ada, tanpa pernah mengutuk, apa lagi melawan perasaan. Lagi pula apabila semua ini hanya soal timing, ingatlah jarum jam tidak diam di tempat. Suatu saat waktu sebagai alat Tuhan, akan membawa kita pada hal  yang benar.


Mistar Mimpi
Saturday, March 5, 2016 @9:51 AM



Dari apa yang telah terjadi, saya dapat menyimpulkan sesuatu : Semua manusia adalah pemimpi.
Yang membedakan hanyalah seberapa besar keinginan seseorang untuk mempertahankan mimpi itu. Tidak perlu munafik. Saya tahu kini mimpi punya ukuran. Tidak lagi relatif seperti yang dulu digembor-gemborkan para motivator. Karena kini ada yang disebut anggapan banyak orang. Yang menjadi mistar bagi mimpi. Tapi bukan bagi pemimpi. Tantangan bagi pemimpi besar.

Mimpi saya bukan mimpi besar. Tapi saya cukup percaya diri dengan mimpi itu.
Kenapa kita harus mempedulikan anggapan orang yang tidak selalu benar? Karena hati kecil kita diam-diam berkata "Memang hal itu tidak sepenuhnya salah". Kemudian pemimpi itu menelan ludah, mencegah tangisnya pecah.
Saat hal itu terjadi, apa berarti pemimpi itu kehilangan kata 'besar' dalam gelarnya? Saya rasa tidak juga. Paling tidak dia tahu ia sedang bertindak bodoh dengan berpikir demikian. Hanya saja, untuk saat ini ia harus terlebih dahulu menunda perwujudan mimpinya.

Saya telah banyak ditertawakan. Saya bukannya jera karena itu. Saya rela jika memang ditertawakan bisa membuat mimpi saya terwujud. Masalahnya kini adalah, saya serakah. Dan tidak ada yang perlu disalahkan atas keadaan ini. Dunia ini fana, pemikiran kita tidak dapat lepas dari hal-hal fana.

Tapi tekad saya bulat. Saya tidak akan lari kemana-mana, melainkan pulang ke dunia saya.


SUPERMAN
Thursday, January 28, 2016 @7:27 AM



Ada yang mengumpakannya sebagai Superman. Manusia serba bisa yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya. Hanya tidak menunjukkannya, bukan berarti tidak punya.

Jika dipikir-pikir, memang benar. Ketika sedikit saja aku terlihat lelah, ia datang malam-malam bersama vitamin di tangannya. Ketika aku melakukan kesalahan, ia menegur dengan solusi. Ketika aku menyalahkan diri sendiri, ia datang sambil berkata "Tidak apa-apa". Ketika sedikit saja aku terlihat resah, ia paham apa sebabnya. Ia menguatkanku dengan nasehat. Dipelukannya yang lembut, dengan lengannya yang kokoh. Supermanku selalu datang di saat yang tepat.

Tapi bukankah Superman juga manusia? Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan Supermanku. Tidak juga keringat dan air matanya saat jauh dariku. Di balik senyuman menenangkan itu, mungkin kekhawatiran berkelebat di kepalanya. Kekhawatiran tentang masa depanku. Bagaimana supaya ia bisa mewujudkan impianku - yang ternyata tak bersesuaian dengan impiannya.

Tuhan, kini aku benar-benar takut. Apakah mewujudkan impianku berarti membunuh impiannya?
Supermanku bilang, aku tidak perlu memikirkan apa-apa. Aku hanya perlu fokus pada impianku. Aku hanya perlu berusaha menjadi manusia yang baik, yang selalu mengingatMu dan melakukan sesuatu tanpa berorientasi pada uang. Seluruh nasihatnya berujung pada kebaikanku. Tapi bagaimana dengannya?

Lindungilah Supermanku, Tuhan.


Berawal Dari Tatap
Saturday, December 19, 2015 @6:27 AM



Ceritanya selalu dimulai dengan tatapan. Aku yang menatapnya. Tapi ia tidak pernah menatapku. Tidak apa-apa. Aku tidak butuh apa-apa selain raganya sendiri.
Kenapa manusia selalu memandang remeh cinta pandang pertama? Apa salahnya menyukai hanya dengan sekali tatap? Memang wajar bila kualitasnya dipertanyakan. Awalnya aku juga selalu merasa hal seperti ini tidak benar. Tapi aku melakukannya. Dan pada akhirnya ada beberapa bahkan banyak hal yang tidak kusukai darinya. Lucunya, aku selalu menerima tanpa harus berusaha.

Yang satu ini juga berawal dari tatapan. Kamu menatapku sambil tertawa. Asal kamu tahu, aku tidak menyukaimu. Wajahmu tampan. Sangat. Tapi aku tidak menyukaimu sebelumnya. Bukan, aku tidak pernah peduli denganmu. Bahkan untuk membencimu, aku tidak punya waktu.
Pada akhirnya aku jatuh cinta pada tatapan itu. Waktu yang sebelumnya kuanggap terlalu berharga untuk  mempedulikanmu, kini tersita hanya untuk menatapmu. Mataku terus mencari, telingaku terus menyimak. Di saat aku merasa tidak lagi menyukaimu, aku harus kembali padamu.
Tapi apa kamu tahu? Tidak ada yang bisa kulakukan selain menemukanmu. Sekali pun kita berada di tempat yang dekat, aku selalu merasa sebaliknya. Ketika aku butuh kamu, aku hanya mampu menemukanmu, tanpa bisa meminta pertolongan. Dan aku tidak puas hanya dengan hal itu. Aku menjadi serakah. Tapi sebanyak keserakahan itu datang, aku juga sadar bahwa tidak ada yang mampu memenuhinya ketika kamu sendiri tidak mampu.
Sama halnya dengan malam ini. Mataku masih berkeliaran dalam kerumunan itu untuk menemukanmu. Temanku bertanya-tanya, siapa yang kucari. Aku tak pernah menjawab untuk membuat mereka menduga sendiri. Karena aku tahu mereka cukup percaya diri dengan dugaan mereka. Untunglah dugaan mereka selalu salah.
Aku lagi-lagi menemukanmu. Senyumku melebar.
Alasanku mencarimu adalah kenangan itu. Aku merasakan deja vu. Kita pernah mengalami kejadian ini sebelumnya, berbagi api untuk menghidupkan lilin. Apa kamu masih mengingatnya? Pertanyaan itu membuatku ingin melihatmu. Aku ingin memastikan lewat ekspresimu, meski aku tahu tidak akan mendapatkan petunjuk apa pun.
Posisimu sangat dekat dariku. Aku ingin sekali menghambur untuk membuat kejadian lalu benar-benar terulang lagi. Tapi lilin di tanganku pun tahu, aku tidak bisa. Tidak boleh.

Dan pilihanku adalah berbelok padanya. Dia cinta sekali pandangku. Yang bisa kudatangi kapan pun aku mau. Yang tidak hanya untuk ditemukan, tapi juga digapai dan dibawa kedalam rengkuhan. Tidak ada tatapan dan senyum manis. Cukup dengan api kecil, tangan yang ikhlas terkena lelehan lilin, dan keberadaanmu. 
Aku menyukaimu sekali lagi.


When you nod your head, yes!
Thursday, November 12, 2015 @10:29 PM



Dokter. Profesi gila yang rata-rata terpikir pertama kali di otak manusia-manusia kecil itu. Cita-cita klasik dan trendy di masanya. Dan setiap orang punya masa yang beda-beda. Aku contohnya. Di saat yang lain mengusahakan sejak dini, rata-rata TK sampai mentok di universitas, aku malah baru mulai di SMA. Dan entahlah kapan masa itu berakhir.
Entah ini cuma presepsiku atau apa, cita-cita dokter lebih sering jadi persinggahan sementara. "Mau jadi apa?" "Dokter." Fase itu hampir selalu pernah dirasakan setiap orang. Faktanya kebanyakan berakhir tak sesuai keinginan di masa itu.
Waktu kecil aku merasa keren. Karena di saat yang lain punya jawaban sama, yaitu dokter atau polisi, aku jawab keras-keras "Arsitek." Aku cuma ngerasa mereka yang jawab dokter, nggak akan mempertahankan cita-cita itu dalam waktu lama. Well, memalukan sekali kalau ternyata sekarang aku malah jawab dokter.

Bismillahirrohmanirohim. Apa pun itu semoga yang terbaik dan diberkati. Aamiin.


Sesuatu yang datang
Wednesday, August 12, 2015 @8:10 AM



Akhir-akhir ini gerimis sering datang. 
Hanya gerimis.

Labels:



I Beg
Monday, February 2, 2015 @3:15 AM



"typing.." 
Came out for two minutes
And I just received

":p"



Giving me a hope?
Playing dirty.


Go away.





.
.
.
.





Please.


Friday, December 12, 2014 @7:20 AM



I dont know why....
                  kenapa aku

Somehow it's too coincidental
Tapi percaya coincidence is not an excuse

Fate?
                   Another bullshit

                              Agh toooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo weird

I don't wanna make it bigger but it's not like I want her to being not serious it's just so annoying so I choose to shut my mouth but see what happen when I don't say anything to her like she don't care or I was the one who made her like that and I just angry to myself then assume she as an enemy but she just too pure to become an enemy so I acting like I can't understand what the real problem is but you know I feel guilty inside oh haha
Please.

Who is she? T^T
Kok aku harus mikir jauh banget~


Aku Lebih
Friday, November 14, 2014 @4:52 AM



Jelang-jelang petang
Matahari hampir hilang
Kamu duduk, menunggunya datang

Siapa?
Jalang yang menarikmu itu?
Aku bosan mendengarnya
Tidak bisakah hidupmu kau hidupi
tanpanya..

Tanda tanya tak benar-benar kusertakan
Aku punya jawaban yang cukup jelas

Dasar sinting

Labels:



Ternyata udah dua minggu jadi draft - -
Saturday, July 19, 2014 @5:05 AM



Selamat malam blog :)
Malam, atau lebih tepatnya pagi. Aku masih nggak paham malam itu kayak gimana. Waktu langit hitam, atau ada ketentuan sampai tetot 00:00, aku nggak pernah ngerti detailnya.
Berhubung ini liburan sekaligus bulan Ramadhan, aku nggak tau harus ngapain disaat nggak punya duit. Mau jalan2 tanpa menghabiskan uang? Rasanya mustahil kalau aku lagi puaa dan nggak bisa nyomot air di tengah perjalanan. Mau bikin sesuatu seperti stop motion yang dulu udah direncanakan? Nggak memungkinkan karena badan lemas. Entah kenapa, aku jadi pusing kalau bangun dari tidur (mungkin males aja sih).

Pas puasa ini seketika aku berubah dari manusia kurang tidur ke manusia nokturnal. Selama ujian dan mengurus tugas sebagai syarat 'naik kelas' seminggu ini, aku tidur paling awal jam dua pagi. Kelihatannya tugasku nggak sebanyak itu ya, tapi kok aku sampai heboh kayak mentri keuangan yang mantengin keuangan dunia selama 14 hari untuk ngehindarin krismon.
Aku jadi nggak bisa tidur malem, karena siangnya kebanyakan tidur. Karena pas siang nggak tahu mau ngapain, akhirnya baca komik atau novel sampai ketiduran. 7 jam yang dikatakan sebagai waktu ideal tidur manusia perharinya, aku pake di siang hari. Jadi malemnya bangun sampai subuh. Tetap baik? Nggak juga soalnya sekali lagi, itu merubah statusku jadi manusia nokturnal.



Fatin Shidqia - Dia Dia Dia
Saturday, June 21, 2014 @9:04 PM



Hai hai hai... Apa ini bisa disebut hiatus?

Nah, karena saya juga manusia, maka saya juga akan menjaga eksistensi saya sebagai manusia dengan post ini. Hanya sekedar eksistensi sebagai autor (manusia) yang masih hidup bahkan di blog ini :)

Fatin Shidqia - Dia Dia Dia

Slalu kupikir bahwa aku tegar
Aku tak pernah menyangka kan begini
Dan saat engkau tak di sisiku lagi
Baru kurasakan arti kehilangan 

~o~  
Ingin kubicara hasrat mengungkapkan   
Masih pantaskahku bersamamu
Tuk lalui hitam putih hidup ini

Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia tlah mencuri hatiku

Dan saat hari dimana kau tinggalkanku
Kukira semuanya kan baik-baik saja
Dan kini baru kusadari semua
Dia dia dia tlah mencuri hatiku 

~o~ 

Ingin kubicara..
Tuk lalui hitam putih hidup ini
Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa 

Ingin kubicara, hasrat mengungkapkan
masih pantaskahku bersamamu (bersamamu)
Tuk lalui hitam putih hidup ini (hitam putih hidup ini) 

Saat engkau pergi, tak kau bawa hati
Dan tak ada lagi yang tersisa
Dia dia dia tlah mencuri hatiku
Dia dia dia tlah mencuri hatiku

Tlah mencuri hatiku

Labels:



Saat Aku Menemukan
Wednesday, March 19, 2014 @8:52 AM



Sedetik lalu aku terjaga. Keningku berair. Keringat juga menyertai punggung dan kakiku. Sementara seluruh bulu kudukku berdiri. Aku gemetaran. Kulirik jam weker hadiah kakak kelas yang bahkan aku sudah melupakan namanya. Waktu memasuki jam dua belas malam. Itu berarti aku baru saja tidur kurang lebih lima belas menit.
Aku tahu penyebab segala kelainan pada tubuhku tadi bukanlah mimpi buruk. Ini hanya petir di musim panas dan aku yang sedang tidak beruntung karena virus influenza yang kudapat sejak kemarin belum juga reda.
Lalu aku memahami satu hal, bahwa yang paling ku butuhkan adalah sesuatu yang dingin. Sehingga aku memutuskan untuk keluar kamar, berharap tidak lupa mengisi wadah es batu. Saat membuka kulkas, hawa dinginnya memenuhi kepalaku, membuatku merasa sedang menghadapi perubahan cuaca yang ekstrim. Jadi aku mengurungkan niat untuk membuat kantung demam dan mengambil air putih dari kran air.
Keputusan pindah ke Negara bukan tropis memang tidak pernah tepat. Tapi dari sekian juta hektar luas dunia ini, tempat ini adalah yang paling kukenal. Aku tidak tahu seharusnya mengenal bahasa dan budayanya adalah sesuatu yang baik atau malah sebaliknya. Yang kutahu, aku hanya pernah menginjakkan kaki di sini selain tempat asalku, dan aku merasa keduanya menerimaku dengan baik. Tapi karenanya, membuatku merasa cuma boleh memilih satu dari beribu Negara di dunia untuk kusinggahi selamanya. Dan pilihanku jatuh pada negeri ini. Yang tak kusangka akan membuatku bersimbah keringat dan air mata saat musim panas datang.
 “Ran, flu-ku makin parah. Jam segini toko obat yang masih buka dimana?” lurus-lurus kutatap bingkai foto didekat sofa. Disana bukannya gambar dua orang yang tertawa bersama, bahagia, dan serasa berada diawang-awang. Disana foto serba formal, serba rapi dengan puluhan manusia berjajar dengan senyum kaku. Ragu, bangga, bingung, dan bahagia sampai tak tahu harus berbuat apa. Lima tahun lalu saat jas dari universitas idaman akhirnya bisa kita pakai. Tapi mataku Cuma bisa menangkap pada satu orang. Bukan aku. Tapi bagianku. Rana-ku. Sayangnya foto yang kupunya hanya ini. Rana-ku bukan orang romantis yang memberi, meminta, dan mengajakku bertukar foto. Ia hanyalah Rana yang biasanya. Rana yang datang karena kuminta. Dan pergi tanpa kuminta.
“Ran, ini malam terakhir sebelum aku punya teman besok. Tapi ternyata terpaksa tidak selamanya buruk lho” Kuraih bingkai itu. Mengira-ngira wajahnya saat ini. Apa mungkin tiba-tiba Rana-ku itu sudah berubah menjadi manusia paling tampan dan tidak akan lari lagi. Ataukah ia hidup bahagia bersama wanita itu. Wanita selayaknya wanita. Pintar masak, merangkai bunga, melukis, dan punya wajah standard sehingga tak banyak laki-laki yang tertarik. Atau malahan dia sama seperti aku. Masih terombang-ambing. Masih tiba-tiba buta akan batas. Masih ingin terbang jauh tak teraih seperti dulu.
“konyol. Aku benci kamu ran.” Aku meletakkan kembali bingkai itu dengan kelembutan. Dengan beribu ketulusan dan kasih yang tak mungkin berbalas. Dengan satu tetes air mata di pipi kiri.
        Malam ini, mungkin sekali lagi aku akan tidur bersama Rana-ku tanpa selimut. Untuk terakhir kalinya aku akan merasakan flu yang makin parah dengan senyuman Rana. Hanya untuk terakhir kali bersama Rana, dimimpiku, dikepalaku, sebelum besok datang.
        Di tengah hujan deras seperti ini seharusnya Rana datang. Menanyakan apa aku baik-baik saja. Apa petir itu tidak lagi menggangguku. Apa aku butuh ia disini untuk menemani. Dia satu-satunya orang yang tahu bahwa petir adalah bagian dari musim hujan yang paling kubenci.
Semua tentang hujan aku suka, kecuali petir. Karena hujan aku bertemu Rana. Karena hujan Rana menyebutkan namanya pertama kali. Menggendongku ala putri ke ruang kesehatan, saat semua orang sudah tak lagi di sekolah. Rana si pendiam, si jenius, orang paling psiko di kelas. Aku jatuh cinta pada orang yang seperti itu.
Lalu, secepat kilat sebelum petir, ia datang. Merubah hidup Rana yang merupakan bagian dariku. Aku tentu juga berubah. Aku terus berlari mengejar bagianku yang lari. Ditengah petir aku, tersandung, terjungkal, jatuh, dan menangis. Tapi tetap saja aku gagal. Rana tak terkejar. Rana tak lagi hadir seperti saat hujan menggangguku dulu, ia terus berlari bersamanya. Petir terpaksa menjadi saksi. Saksi ketika Rana memilih menggendongnya daripada aku, saat petir membuatku tersiksa. Saat aku kehilangan bagian dari diriku. Sejak itu aku tahu seharusnya aku membenci Rana. Rana bukan lagi Rana-ku. Dia Rana-nya.
Lagi-lagi aku terjaga. Lagi-lagi aku terbangun saat aku baru terlelap selama lima belas menit. Lagi-lagi petir penyebabnya. Lagi-lagi aku merasa jatuh dan terjungkal. Aku ingin menangis, dipelukan Rana. Rencanaku untuk menghabiskan malam terakhir dengan Rana gagal. Padahal ini terakhir kalinya aku harus berusaha. Di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagianya, siapa yang ingin merasakan perasaan semacam ini?
“Mara.” Kini aku berdelusi. Aku mendengar hal yang sama saat hujan dulu. Tapi aku mencoba tetap rasional, bahwa Rana bukan lagi Rana-ku, dan tidak mungkin kembali.
“Mara bangun. Ini aku.” Caranya memanggil sama. Ini benar-benar Rana?
“Rana.”
Suara itu berhenti memanggil namaku. Aku sepenuhnya sadar dan dapat melihat raut wajah yang lembut dengan senyum kaku dihadapanku. Aku sadar aku sedang dibopong. Ala putri seperti yang dulu dilakukan Rana. “Ghia” Aku menyebut nama itu perlahan, sementara Ghia dengan hati-hati menurunkanku di tempat tidur. Kemudian menggeret kursi dan duduk disampingku. “Ghia”.
Ia tersenyum. Senyum getir.
“Ghia”
“Iya ini aku. Tidurlah lagi. Maaf membangunkanmu. Aku akan mengambilkan obat dan kantung demam. Kamu demam.” Aku tahu apa yang baru saja terjadi melihat rambutnya yang basah. Aku tahu apa yang sedang ia pikirkan. Aku tahu apa yang sedang ia rasakan.
“Kamu kehujanan? Kenapa kesini?”
“Karena.. merasa perlu? Petir kali ini benar-benar heboh. Aku pikir seharusnya malam ini ada orang yang berbahagia bersama meskipun petir datang. Kamu tidak apa-apa?”
Beberapa saat aku terdiam. Memikirkan berbagai ‘seharusnya’ di kamusku. Semuanya kini berubah menjadi ‘ini dia’. Dan berpikir dengan otak kali ini percuma. Aku hanya butuh hati untuk mengingat. Memori yang tak pernah rusak ada di dalam hati, disebut perasaan. Perasaanku selalu terbungkus rapi dan utuh didalamnya.
Raga yang sekian lama menolak, dan otak yang mengambil alih tugas penyimpanan memoriku. Aku tahu itu yang selama ini salah. Yang membuat Rana terus menerus ada hanya dalam bentuk khayalan. Dan aku yang merasa berpikir rasional padahal tidak pernah sama sekali. ‘Seharusnya’ yang kuperuntukkan untuk Rana dimiliki orang lain. Rana bukan untukku.
Aku tak berani menatap wajahnya. Aku sadar seberapa jelek wajahku saat ini dimatanya. Seberapa perasaan tak suka itu hadir beberapa menit lalu. Aku tahu, makanya aku hanya berkata super pelan, berharap ia paham bukan karena mendengar, tapi merasakannya. “Malam ini, maafkan aku sekali lagi. Aku benar-benar akan berhenti.” Aku menangis, memeluknya. Tangisan kedua malam hari ini. Untuk pertama kalinya aku memeluk Ghia tanpa Rana di kepalaku.
Aku baru tahu kalau menyadari sebegini menyakitkan, menemukan sebegini melelahkan. Setelah lama aku terombang-ambing, akhirnya kutemukan perahu yang benar. Yang tidak akan membiarkanku terombang-ambing lagi – seperti yang dilakukan Rana. Aku pun paham kenapa Rana melakukannya. Karena Rana sudah cukup penumpang, dan Rana tak bisa diharapkan lagi. Ia punya orang lain. Sama seperti aku saat ini yang menemukan tanpa perlu mencari. Anehnya aku merasa lelah meski tak mencari.

---

Labels:



Es
Monday, March 17, 2014 @8:05 AM



Dingin. Benar-benar dingin.
Aku ingin sekali teriak keras-keras bahwa aku sedang kedinginan. Tapi rasanya tidak mungkin lagi. Aku terlalu kedinginan. Dan lagi tidak penting seandainya aku berteriak. Aku tidak mungkin mundur lagi. Kamu juga tidak boleh mundur.

Aku menatap lurus pada potongan besi dihadapanku. Membayangkan apa jadinya jika kusentuh benda itu. Pasti dingin. Atau jangan-jangan aku malah membuat besi itu mendingin. Jangan-jangan seandainya aku berendam di bathub, maka aku akan punya fungsi yang sama dengan es batu dalam lemonade. Ah entahlah. Mungkin aku sudah menyamai kamu. 
Mungkin itu hal yang kamu lakukan padaku dulu. Kamu membuatku beku. Menjadi es yang keras. Yang terlalu dingin, sama seperti kamu. Hubungan kita dari dulu memang ditakdirkan bagai air dan es. Kamu es yang ketika disatukan dengan air - dengan aku, akan melebur menjadi aku. Aku melebur menjadi kamu. Kita bersatu. Menjadi sama. Menjadi air es yang dingin.

Tidak. Kita bukan air es. Kita tak pantas disebut air es. Kita es. Ternyata aku tak mampu merubahmu. Kamu yang merubahku menjadi kamu. Menyamakan, terlalu sama sampai tak bisa lagi melengkapi.

Dan aku mulai membenci dunia ini. Dunia serba dingin yang kau ciptakan. Aku butuh kehangatan yang membuatku melunak, mencair, kembali menjadi aku yang dulu. Aku yang benar-benar aku. Tanpa dingin milikmu. Tanpa kamu.
Tapi aku tak punya pilihan. Kamu adalah pilihanku satu-satunya. Karena aku tak mau membuat orang lain bernasib sama sepertiku. Aku tidak mau menjadikan orang lain sedingin aku saat ini. Besi atau kayu. Daun maupun bumi. Tidak akan kusentuh mereka. Aku akan tetap bersamamu. Aku harus.



Huaaa... Ini terinspirasi saat hujan turun. Dan saya berada didepan lappy bersama naskah drama. Saya menahan diri untuk menulis karena blog ini belum boleh ditulisi. Tapi saya tidak kuat. Takut inspirasi saya hilang. Dan kelihatannya jadwal saya memadat minggu2 ini meskipun libur -,,-

Labels:



Kezia
Sunday, March 2, 2014 @7:00 PM



Pagi? Siang? Malam?
Entahlah. Aku tidak bisa mengira-ngira tentang waktu yang kau pilih untuk membukanya. Atau jangan-jangan tidak akan pernah dibuka.

Lima jam, tiga ratus menit, delapan belas ribu detik, satu juta delapan puluh ribu milisekon lagi. Tepat pukul 00:00:01, tiga maret dua ribu empat belas. Genap tujuh belas tahun kamu menghirup oksigen. Tujuh belas tahun, kata orang momen krusial.
Saat dimana kamu mendadak kehilangan gelar “anak-anak”. Gerbang usia dewasa mau tak mau harus dilewati tubuh mungilmu. Kamu juga tidak punya alasan lagi untuk diberi angpao seandainya kamu merayakan imlek.

Lalu apa? Adakah harapanmu akan terkabul di usia ini? Adakah kamu bisa mengambil keputusan yang tepat saat dihadapkan dengan pilihan? Adakah semua orang menyukaimu tanpa secerca kebencian? Adakah ketulusan itu selalu menyertai setiap usahamu? Adakah hidup ini akan lebih baik?

Kami berharap. Semuanya, orang-orang itu, temanmu, keluargamu, tak ada yang ingin jawaban ‘tidak’ untuk seluruh pertanyaan itu. Kami mengamini disini. Kami punya harapan yang sama.
Dan di kelas itu. Di sekolah itu. Di rumah itu. Semuanya akan baik-baik saja. Mereka yang cuek tidak seperti yang kamu pikirkan. Mereka bersamamu. Kamu ada di otak mereka, di hati mereka. Kamu tidak pernah sendiri. Bisa dijangkau jarak dan waktu.
Tetap semangat dan selamat ulang tahun Kezia Citra Puspita Setjo.
Kami ada.





Menjauh
Wednesday, February 26, 2014 @6:25 AM



---

Dia, adalah satu dari jutaan manusia normal, yang tahu apa yang orang lain simpan. Tanpa perlu kata kata yang langka itu. Tanpa perlu ekspresi yang entah kapan akan muncul. Hanya dengan jarak, ia sudah tahu.

Paham betul dia bahwa orang itu telah menjauh. Ekspresinya mengelak. Perkataannya menipis. Senyumnya memudar. Jaraknya meregang.
Lalu ia? Tentu saja diam. Memang apa lagi?

Bagi dia, diam adalah kodrat. Bagi dia, ditentukan, bukan menentukan. Bagi dia, tidak maju, tidak juga mundur.
Karena ia berpaham satu, bahwa sudah seharusnya mengikuti arus yang ada. Bukannya menyatukan arah yang lain menurut kehendaknya. Ia hanya akan menunggu. Atau benar-benar hancur ketika dirasa tak bisa lagi.

Tapi bukan nafsu untuk memiliki itu tidak ada sama sekali. Dia selayaknya orang yang mencintai, punya harapan untuk memiliki orang itu. Namun sekali lagi, menurutnya, hanya diam yang pantas dilakukan. Bukan mengejar.
Saat orang itu mendekat, maka akan dekat. Saat orang itu menjauh, maka akan jauh. Ia tak bisa apa-apa. Sedekat apapun itu, ia akan menganggap itu sebagai satu dari jutaan keajaiban di hidupnya, tapi tak berusaha mendekap sampai tak bisa lagi lepas. Sejauh apapun itu, ia benar-benar akan jalan ditempat karena ia merasa sanggup. Karena ia rasional. Atau ia memang kelewat bodoh.
Entahlah.

Labels:



+ Follow

▼▼▼
幸せはすぐそばにあります。
Happiness is just around the corner.
Previous // Next